Kalimantan Barat (Kalbar) memiliki potensi besar untuk mengambil peran dalam pengembangan ekonomi syariah nasional, yang terus menunjukkan perkembangan menjanjikan sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Didukung oleh keberadaan lebih dari 338 ribu UMKM dan 5.173 pelaku usaha halal, serta pertumbuhan ekonomi daerah yang mencapai 6,14 persen secara tahunan (yoy) pada triwulan I 2026, provinsi ini memiliki peluang untuk memperkuat rantai nilai halal berbasis potensi lokal, mulai dari sektor makanan dan minuman halal, fesyen muslim, industri kreatif, hingga pengembangan ekonomi pesantren.
Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Indicator (SGIE) 2026, Indonesia menempati peringkat ke empat dunia dalam pengembangan ekonomi syariah serta mencatat posisi unggul pada sejumlah sektor, antara lain peringkat pertama dunia untuk modest fashion dan peringkat ke tiga untuk halal food.
“Besarnya pasar halal nasional tersebut, menjadi peluang strategis yang perlu didukung melalui penguatan ekosistem halal yang terintegrasi dari sisi produksi, pembiayaan, akses pasar, dan peningkatan daya saing pelaku usaha,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, Doni Septadijaya pada pembukaan Rangkaian Aksi Kolaborasi Membangun Ekonomi Syariah Khatulistiwa (Rabbani Khatulistiwa) 2026 di Pontianak, Kamis 18 Juni.

Doni mengungkapkan, bahwa pengembangan ekonomi syariah di Kalimantan Barat masih menghadapi sejumlah tantangan. Antara lain, perlunya peningkatan literasi dan inklusi ekonomi syariah, perluasan sertifikasi halal, penguatan akses pembiayaan syariah, serta pengembangan akses pasar dan rantai pasok produk halal.
“Oleh karena itu, sinergi berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah yang inklusif dan berkelanjutan,” imbuhnya.
Sebagai wujud komitmen tersebut, Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan Komite Daerah Ekonomi Keuangan Syariah (KDEKS) Kalimantan Barat menggelar Rabbani Khatulistiwa 2026 dengan mengusung tema “Penguatan Rantai Nilai Halal dan Halal Lifestyle untuk Kemandirian Pesantren dan Umat Kalimantan Barat”.
Kegiatan ini menjadi bagian dari Road to Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia (FESyar KTI) dan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF).
Opening Ceremony yang berlangsung di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat dihadiri oleh Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, dr. H. Harisson, M.Kes., Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, Doni Septadijaya, serta berbagai pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, regulator, perbankan, akademisi, pondok pesantren, pelaku usaha, dan komunitas ekonomi syariah.










Discussion about this post