Terminal Kijing, Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikelola oleh PT Pelindo Regional 2 Pontianak, resmi beroperasi sebagai pelabuhan internasional di Mempawah, Kalimantan Barat pada 9 Agustus 2022. Sejak keberadaannya pada tahun 2020, kegiatan arus barang dan kapal terus bertumbuh signifikan.
Di awal operasionalnya, pelabuhan terbesar di Kalimantan ini, hanya melayani 68 kunjungan kapal, dengan gross tonage kapal sebesar 129.258. Setahun kemudian pada 2021 meningkat drastis 191 unit kapal dengan gross tonage 483.737, terkerek 185,8 persen.
Aktivitas ini terus bertumbuh, hingga di tahun 2025 capaiannya sebanyak 741 kunjungan kapal dengan kapasitas 2.88.308 gross tonage. Menginjak tahun 2026 hingga Mei saja, jumlah kunjungan kapal telah di angka 404 unit, naik 28,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Arus curah kering juga naik 96,3 persen menjadi 1,57 juta ton dan arus curah cair mencapai 80,8 persen menjadi 1,07 juta ton. Akhir tahun ini, diperkirakan bisa mencapai angka 2,5 juta ton untuk curah cair.
Kegiatan di pelabuhan ini didominasi oleh kapal curah cair sebanyak 69,1 persen dan kapal curah kering 26,9 persen, sementara general cargo hanya 4 persen. Arus pelayanan barang terus meningkat setiap tahunnya.
Hanya di tahun 2025 lalu, terjadi penurunan sebesar 10, 9 persen dari throughput sebanyak 1.787.739 ton di tahun 2024 melandai menjadi 1.593.765 ton pada 2025.
“Untuk curah cair di tahun 2025 memang terjadi penurunan, karena PKS (pabrik kelapa sawit) memasuki masa replanting (peremajaan) atau penanaman ulang pohon sawit, sehingga ketersediaan bahan baku berkurang,” jelas General Manager Pelindo Regional 2 Pontianak, Kalbar Yanto kepada sejumlah awak media, pekan lalu.
Sementara untuk curah kering terus mengalami lonjakan arus pelayanan barang. Pada tahun 2025 throughput tercatat sebanyak 2.502.928 ton naik 245 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar 725.443 ton.
Untuk komoditi ekspor curah cair terbanyak adalah RBD Palm Olein sebesar 26,60 persen. Selebihnya ada Glaycerine, Palm Oil Mill Effluent, Palm Fatty Accid Distillate, Aluminium Hidroksida, Palm Kernell Expeller, RBD Palm Oil, Crude Palm Oil dan RBD Palm Kernel Oil. Tahun lalu, jumlah ekspor komoditi tersebut mencapai 460.988 ton.
Sedangkan komoditi impor di tahun 2025 tercatat sebanyak 392,181 ton. Terdiri dari pupuk dengan kemasan bag cargo sebanyak 52,13 persen, disusul liquid caustic soda dalam kemasan curah cair 22,40 persen, methanol, ethanol kemasan curah cair 22,37 persen, beras kemasan bag cargo 1,71 persen dan material konstruksi dengan kemasan general cargo sebanyak 1,40 persen.
Adapun negara tujuan ekspor sebagian besar negara China dengan angka 145,847,37 persen. Ekspor terbanyak ke dua adalah Mesir sebanyak 54,153,14 persen, selebihnya ada Malaysia, Jeddah, India, Singapura, Napoli, Spain, UEA, Vietnam, Arab Saudi, Italia, Afrika Timur, Amsterdam dan Arab. Komoditi ekspor terbesar adalah CPO dan turunannya serta alumina. Pelindo Regional 2 Pontianak mencatat data hingga Mei 2026 total ekspor sebanyak 391.889 ton.









Discussion about this post