Sementara negara kapal impor terbanyak dari Malaysia 42,197,26 persen, China 51,027,31 persen, Rusia 24,920,15 persen.Selebihnya dari Singapura, Yordania, Australia, Mesir, Brunei Darussalam dan Korea. Produk impornya adalah caustic soda, methanol dan pupuk. Total hingga Mei 2026 sebanyak 163.562 ton.
Tak hanya melayani arus kapal dan barang, Terminal Kijing juga memiliki mitra kerjasama dalam kawasan terminal dan kawasan pendukung, yang melakukan operasional tenant.
Saat ini tercatat ada tiga perusahaan besar yang memanfaatkan lahan di area Terminal Kijing, yakni Pacific Bio Industry dengan lahan seluas 10,32 hektar. Perusahaan ini telah melakukan ekspor perdana produk turunan CPO berupa RBDPL (Refined, Bleached and Deodorized Palm Olein) melalui Terminal Kijing tujuan Port Jeddah, Arab Saudi dan Pelabuhan Djibouti pada 12 Desember 2025. Estimasi produk perusahaan ini sebanyak 400 ribu ton per tahun.
Ada juga perusahaan PT Khatulistiwa Raya Cakrawala (Apical Group) yang menggunakan lahan seluas 20,03 hektar. Perusahaan ini juga telah melakukan kegiatan muat produk turunan CPO berupa CPKO (Crude Palm Kernel Oil) melalui Terminal Kijing dengan tujuan Pelabuhan Dumai pada 13 Desember 2025. Estimasi produk 650 ribu ton per tahun.
Begitu pula Perusahaan Riya Pasific Nabati (Pasific Agro Sentosa Group) yang memanfaatkan lahan di pelabuhan Terminal Kijing seluas 1 hektar. Saat ini masih dalam proses pembangunan. Estimasi produk per tahun sebanyak 538 ribu ton.
Belum lama ini, Terminal Kijing telah melayani kegiatan bongkar muat petikemas perdana milik PT Pulau Laut Line yang menjadi tonggak penting dalam pengembangan pelabuhan, sebagai pusat logistik dan perdagangan internasional.
Pelayanan perdana peti kemas dilakukan melalui rute Pasir Gudang–Batam–Kijing–ICA–Kijing–Pasir Gudang dengan aktivitas bongkar sebanyak 70 peti kemas kosong.
Kalbar Yanto menyebut, pelayanan perdana peti kemas merupakan pencapaian strategis dalam upaya menjadikan Terminal Kijing sebagai gerbang logistik modern di Kalimantan Barat.
“Pelayanan perdana peti kemas di Terminal Kijing merupakan tonggak penting dalam pengembangan pelabuhan modern di Kalimantan Barat. Dengan mulai beroperasinya layanan peti kemas, Terminal Kijing semakin siap mendukung kelancaran arus logistik, meningkatkan daya saing ekspor daerah, serta mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi di Kalimantan Barat,” ujarnya.
Kini Terminal Kijing telah dilengkapi berbagai peralatan pendukung layanan peti kemas, seperti Harbour Mobile Crane, Reach Stacker, Head Truck, Chassis 45 Feet, hingga Quay Container Crane (QCC) yang telah tiba di Terminal Kijing pada Mei 2026. **









Discussion about this post