Konflik Sosial dalam berinvestasi di sektor perkebunan hampir di seluruh Indonesia mirip, yakni masalah tumpang tindih lahan, masalah plasma, masalah batas antar desa dan masalah pembagian sisa hasil usaha.
Untuk mengeliminir agar tidak terjadi konflik terbuka, Manajemen Mukti Plantation menggelar Coffe morning bersama masyarakat di Cafe Anak Rantau Kota Baru Kecamatan Tanah Pinoh Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat belum lama ini.
Coffe Morning yang dipandu oleh Manajer Eksternal Relation Drs.Suhadi Sw.M.Si dihadiri oleh Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Kecamatan Tanah Pinoh, Kecamatan Tanah Pinoh Barat dan Kecamatan Sokan Kabupaten Melawi serta para kepala desa yang wilayahnya ada kebun sawit milik Mukti Plantation Group (PT.AAK, PT.AHL, PT, AKM & PT.BSU).
Menurut Suhadi Sw, pertemuan dengan stakeholder dan pemangku kepentingan ini perlu dilakukan, karena di samping untuk merajut tali silaturahmi juga sekaligus membangun kebersamaan.

“Sehingga ketika ada masalah sosial kemasyarakatan dapat deselesaikan secara dini, tanpa harus dilakukan secara formal,” ujarnya.
Suhadi menyitir pendapat seorang filosofi Yunani Kuno Plato, yang hidup 450 tahun sebelum masehi. Ia mengatakan, suatu negara akan kokoh dan jaya bila ditopang oleh tiga kekuatan utama, yakni pertama kaum cerdik pandai, melalui penelitian atau karya ilmiahnya. Kaum cerdik pandai bisa berkontribusi untuk negara.
Ke dua birokrasi yang kuat. Apabila para birokrat bekerja sesuai aturan, tidak ada yang melakukan korupsi , kolusi, nepotisme, gratifikasi, pembebanan kepada masyarakat, memberikan pelayanan secara tulus dan ikhlas tidak ada yang melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan norma hukum dan norma agama, maka negara akan kokoh dan jaya.










Discussion about this post