Kata Jenny, pisang-pisang yang dipasok dari petani di daerahnya, awalnya memang bagus, dengan isi kuning bersih dan manis, namun ketika semakin banyak pesanan, maka jenis pisangnya sudah bercampur, tak lagi kuning montok.
“Kita memang kesulitan untuk membedakannya,” aku Jenny.
Konsumen luar negeri memang tergolong cerewet, selain harus hiegenis, kualitas produk harus benar-benar terjaga. Cacat sedikit saja akan ditolak, semisal pisang tersebut memiliki serat hitam sedikit saja pasti ditolak. “Jatuh bangun juga saya mengelola ekspor pisang beku ini,” kata Jenny.
Lantaran ada permintaan tambahan, agar pisang bekunya lebih manis itulah, Jenny lantas menghentikan sementara produksinya. Gudangnya yang berdiri di lahan seluas satu hektar, kini dibiarkan tanpa aktivitas. Gudang tersebut, terlihat kotor dan berdebu.
PT Hasil Kalimantan Sejahtera, bisa jadi pengekspor pertama jenis pisang kepok atawa nipah ini. Meski pun masih tersendat, namun dengan perhatian pemerintah lewat Dinas Pertanian dan TPH Kalbar pisang nipah akan naik kelas, kian bergengsi, nilainya bakal semakin tinggi lantaran masuk pasar bule.
Data yang diperoleh AESBI (Asosiasi Eksportir Sayur dan Buah Indonesia), selama ini, buah-buahan yang masuk pasar ekspor antara lain, manggis, mangga arumanis, mangga gedong gincu, salak dan pisang kirana atawa pisang berangan. Pasarnya Singapura, Malaysia dan Tiongkok.
Singapura saja, pasar buah dan sayuran yang diekspor Indonesia lumayan besar, ada sekira 450 ribu ton setahun, nilainya Rp 7,5 triliun. Untuk ekspor buah dan sayuran ini, Indonesia baru berhasil meraih pangsa pasar 4,2 persen saja, lantaran masih kalah saing kualitas serta jumlah dan kontinitasnya.
Jenny Astari dan Eddy yang bersama memproduksi dan memasarkan buah-buahan Kalbar ke luar negeri lewat PT Hasil Kalimantan Sejahtera, merasa penasaran juga untuk terus mengekspor buah-buahan Kalbar. Untuk pisang, Jenny nampaknya ingin memiliki lahan pertanian sendiri.
“Lebih enak kita membudidayakan buah ini, ketimbang hanya mengandalkan petani, karena kadang kualitasnya masih belum memadai,” katanya.
Karenanya, lahan yang masih tersedia di area gudangnya, ingin dimanfaatkannya untuk bertanam pisang kepok itu. Selain itu, Eddy juga menawarkan peluang ekspor singkong atawa ubi kayu. “Pasarnya ada di luar negeri, permintaannya juga lumayan. Ke depan mungkin bisa kita pikirkan,” ucap Eddy. **
Penulis.Yuli.S
Editor Yuli.S
Berita ini telah terbit di Tabloid Matra Bisnis Edisi Juni 2016

















Discussion about this post