Perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini menjadi tantangan, sekaligus peluang bagi pelaku UMKM. AI merupakan bentuk kemajuan teknologi yang tidak dapat dihindari, pelaku usaha harus mampu beradaptasi dengan teknologi.
Pelaku usaha yang tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital, berpotensi kehilangan pasar. Fenomena beralihnya konsumen dari toko fisik ke platform digital menjadi bukti, bahwa transformasi digital kini menjadi kebutuhan utama bagi pelaku usaha.
Akademisi sekaligus Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura, Nurul Bariyah, S.E., M.Si., Ph.D, menegaskan, bahwa UMKM saat ini tidak dapat dipisahkan dari kondisi ekonomi global yang sedang mengalami perlambatan.
Menurutnya, berdasarkan laporan International Monetary Fund (IMF), pertumbuhan ekonomi dunia masih menunjukkan tren melambat akibat berbagai faktor, mulai dari konflik geopolitik hingga dampak perubahan iklim yang memengaruhi rantai pasok dan distribusi bahan baku di berbagai negara.
“UMKM berada dalam ekosistem ekonomi yang besar. Ketika terjadi perlambatan ekonomi global, perang, maupun perubahan iklim, dampaknya akan dirasakan hingga ke pelaku usaha kecil melalui kenaikan biaya produksi dan terganggunya pasokan bahan baku,” kata Nurul dalam Dialog Interaktif bertajuk Kupas Tuntas Narasi Liar Regulasi PP 20 Tahun 2026 dan Jaminan Pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah di Kalimantan Barat di Pontianak, pekan lalu.
Kegiatan ini digelar oleh Pengurus Wilayah Asosiasi Pengusaha Kecil Menengah Mikro Nusantara (APIMSA) Kalimantan Barat dengan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dan menjadi ruang diskusi untuk memberikan pemahaman yang komprehensif, terkait regulasi PP 20 Tahun 2026 sekaligus membahas tantangan dan peluang pengembangan UMKM di tengah dinamika ekonomi global.
“Pelaku UMKM harus mulai memanfaatkan teknologi sederhana yang mudah dijangkau, seperti WhatsApp Business maupun platform digital lainnya untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing,” ujar Nurul.
Dalam paparannya, Nurul menyebutkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih relatif positif dengan proyeksi pertumbuhan sekitar 5 persen. Namun, untuk mewujudkan visi Indonesia Emas, pertumbuhan ekonomi nasional idealnya mampu mencapai 8 persen.
Sementara itu, Kalimantan Barat mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, bahkan berada di atas rerata nasional dengan angka sekitar 6,14 persen pada triwulan sebelumnya. Tingkat pengangguran juga relatif rendah, meskipun masih terdapat sekitar 200 ribu penduduk yang membutuhkan lapangan pekerjaan.









Discussion about this post