Meski demikian, ia mengingatkan bahwa Kalimantan Barat masih menghadapi tantangan struktural berupa ketergantungan pada sektor primer seperti pertanian dan komoditas. Kondisi tersebut membuat perekonomian daerah rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global.
“Ketika harga sawit atau karet turun, daya beli masyarakat ikut melemah. Dampaknya akan dirasakan hingga ke warung-warung dan pelaku UMKM karena perputaran ekonomi menurun,” jelasnya.
Selain itu, produktivitas sumber daya manusia dan literasi digital juga menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian serius. Kesenjangan kemampuan digital di kalangan pelaku UMKM dinilai masih cukup tinggi sehingga membutuhkan pendampingan berkelanjutan.
Sebagai langkah adaptasi, Nurul mendorong pelaku UMKM untuk mengoptimalkan penggunaan bahan baku lokal guna mengurangi ketergantungan terhadap produk impor yang rentan terdampak pelemahan nilai tukar rupiah. Pelaku usaha juga perlu meningkatkan efisiensi operasional agar tetap mampu menjaga daya saing produk.
Ia juga melihat peluang besar dari sektor pariwisata dan pasar domestik. Pelemahan nilai tukar rupiah dapat menjadikan produk lokal lebih kompetitif di mata wisatawan mancanegara, terutama produk khas daerah yang memiliki identitas dan nilai budaya kuat.
“Produk-produk unggulan Kalimantan Barat seperti kopi, kuliner khas, kerajinan, dan berbagai produk lokal lainnya harus diperkuat dari sisi kualitas, kemasan, dan branding agar mampu menjadi tuan rumah di daerah sendiri sekaligus bersaing di pasar yang lebih luas,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Nurul menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, asosiasi, dan perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan UMKM. Kampus, menurutnya, dapat berperan melalui inkubator bisnis, pendampingan usaha, pelatihan digitalisasi, hingga membantu promosi produk lokal.
Menurutnya, sinergi tersebut juga sejalan dengan Poin-poin implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) yang menjadi fokus perguruan tinggi di bawah Kemendiktisaintek, khususnya tujuan SDGs seperti 1. Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, 2. Industri, Inovasi dan Infrastruktur, 3. Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, 4. Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Melalui dialog interaktif ini, APIMSA Kalbar berharap pelaku UMKM memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai regulasi pemerintah sekaligus mampu menyusun strategi yang tepat untuk menghadapi tantangan ekonomi global dan memanfaatkan peluang pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.**









Discussion about this post