Solanum kalimantanense ditemukan melalui kegiatan eksplorasi lapangan yang dilakukan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan pada periode 2022–2024. Spesies baru ini termasuk kelompok terong berduri (Leptostemonum clade) dan memiliki kemiripan dengan Solanum lasiocarpum.
Namun, Solanum kalimantanense memiliki sejumlah karakter morfologi khas yang membedakannya, seperti ukuran daun yang hampir sama panjang dan lebarnya, lekukan daun yang sangat dangkal, permukaan buah matang berbulu halus dan jarang, serta ukuran buah yang lebih besar dibandingkan Solanum lasiocarpum.
Selain itu, analisis DNA menggunakan penanda ITS menunjukkan adanya perbedaan genetik yang cukup signifikan dibandingkan spesies kerabat terdekatnya.
Penelitian ini dilakukan oleh para Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, yakni Esthi L. Agustiani, Tutie Djarwaningsih, dan Muhammad Rifqi Hariri; serta Peneliti Pusat Riset Ekologi BRIN, Siti Susiarti.
Rifqi mengatakan, penemuan ini memperkaya data keanekaragaman tumbuhan Indonesia, khususnya dari Pulau Kalimantan. “Temuan ini menunjukkan Indonesia masih memiliki potensi biodiversitas yang sangat besar dan belum seluruhnya terdokumentasi secara ilmiah, termasuk dari kelompok tumbuhan yang telah dikenal dan dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Tutie mendapatkan informasi tanaman ini dikenal masyarakat lokal dengan sebutan terong asam atau terong dayak dan telah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Buahnya banyak dijumpai di pasar terapung Banjarmasin dan umum diolah sebagai sayuran.












Discussion about this post