Selain itu, masyarakat di Kecamatan Kenohan, Kalimantan Timur, memanfaatkan daun dan kuncup buah tanaman ini sebagai obat tradisional yang dikenal dengan istilah “wikat” untuk pengobatan kanker.
Secara ekologis, Solanum kalimantanense ditemukan tumbuh pada berbagai tipe tanah, mulai dari tanah lempung berpasir hingga tanah hitam asam, dengan rentang ketinggian 9–1700 meter di atas permukaan laut. Spesies ini diketahui tersebar di beberapa wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
Namun, berdasarkan kajian awal, spesies ini diduga memiliki populasi terbatas sehingga berpotensi masuk kategori rentan (Vulnerable) menurut kriteria IUCN.
Esthi mengungkapkan kombinasi pendekatan morfologi dan analisis DNA sangat penting dalam memastikan status spesies baru. “Pendekatan integratif melalui pengamatan morfologi dan DNA barcoding membantu kami membedakan spesies ini dari kerabat dekatnya secara lebih akurat,” ungkapnya.
Hasil penelitian ini semakin memperkuat pentingnya eksplorasi dan kajian taksonomi tumbuhan Indonesia sebagai bagian dari upaya pendataan dan pelestarian keanekaragaman hayati nasional. BRIN akan terus melakukan penelitian biodiversitas untuk mendukung pengungkapan potensi flora Indonesia serta pemanfaatannya secara berkelanjutan. **












Discussion about this post