Ketidakpastian global masih membayangi perekonomian dunia melalui dinamika geopolitik, volatilitas harga energi, dan perlambatan perdagangan internasional. Meski demikian, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang baik.
Hingga akhir Triwulan I Tahun 2026, indikator ekonomi nasional masih terjaga dengan dukungan konsumsi domestik, investasi, dan peran APBN dalam menjaga daya beli masyarakat. Sejalan dengan kondisi tersebut, kinerja APBN Regional Kalimantan Barat hingga 30 April 2026 tetap menunjukkan tren yang positif.
Pada Konferensi Pers APBN Kalimantan Barat Edisi Bulan Mei Tahun 2026 pada 26 Mei 2026 disampaikan, bahwa Pendapatan Negara di Kalimantan Barat telah terealisasi sebesar Rp4.458,47 miliar atau 26,56 persen dari target. Sementara itu, Belanja Negara mencapai Rp9.200,48 miliar atau 34,46 persen dari pagu. Dengan perkembangan tersebut, defisit APBN Regional Kalimantan Barat tercatat sebesar Rp4.742,01 miliar dan secara tahunan melebar sebesar 0,18 persen.
“Di tengah gejolak geopolitik dunia, APBN Regional Kalimantan Barat tetap tumbuh,” jelas Triyanto, Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II Kanwil DJPb Provinsi Kalimantan Barat.
Dari sisi penerimaan negara, penerimaan perpajakan masih menjadi penopang utama. Hingga April 2026, penerimaan perpajakan terealisasi sebesar Rp3.974,91 miliar atau 25,13 persen dari target dan tumbuh 16,83 persen secara tahunan.
Pertumbuhan penerimaan pajak secara kumulatif tercatat sebesar 17,71 persen (year on year). Pertumbuhan tersebut terutama didukung oleh sektor Administrasi Pemerintahan yang tumbuh 43,73 persen, Industri Pengolahan sebesar 26,33 persen, serta sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 22,91 persen.
Sementara itu, sektor Perdagangan Besar dan Eceran menjadi kontributor terbesar penerimaan pajak dengan kontribusi sebesar 26,65 persen, mencerminkan aktivitas distribusi dan konsumsi domestik yang tetap terjaga. Pada sektor kepabeanan dan cukai, penerimaan Bea Cukai hingga April 2026 tumbuh sebesar 5,82 persen secara tahunan.
Pertumbuhan Bea Masuk didorong oleh impor komoditas caustic soda untuk pengolahan alumina dengan kontribusi sebesar 44,40 persen, diikuti prefabricated building sebesar 16,90 persen dan generator sebesar 11,80 persen.
Sementara itu, Bea Keluar masih mengalami kontraksi sebesar 10 persen akibat belum adanya ekspor crude palm oil (CPO), di mana ekspor masih didominasi produk turunan CPO serta Palm Kernel Shell dan Palm Kernel Expeller. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) terealisasi sebesar Rp483,57 miliar atau 50,11 persen dari target dan tumbuh sebesar 5,80 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kinerja Badan Layanan Umum (BLU) juga tetap positif dengan Universitas Tanjungpura menjadi satuan kerja dengan capaian PNBP BLU tertinggi sebesar Rp112,89 miliar. Dari sisi belanja negara, Belanja Pemerintah Pusat terealisasi sebesar Rp2.997,56 miliar atau 28,86 persen dari pagu dan tumbuh 42,36 persen secara tahunan.
Sementara itu, Transfer ke Daerah terealisasi sebesar Rp6.202,92 miliar atau 38,02 persen dari pagu. Secara nominal, fungsi Pelayanan Umum mencatat realisasi terbesar sebesar Rp6.339,69 miliar.
Dari sisi pertumbuhan, fungsi Perumahan dan Fasilitas Umum tumbuh sebesar 3.690,9 persen, fungsi Ekonomi tumbuh 222,6 persen, fungsi Perlindungan Lingkungan Hidup tumbuh 50,3 persen, dan fungsi Pendidikan tumbuh 43,6 persen.














Discussion about this post