“Pengembangan Kalimantan, perlu dibaca sebagai integrasi antara ruang wilayah dan aktivitas yang terjadi di dalamnya. Karena itu hilirisasi, infrastruktur dan penguatan ekonomi daerah harus dirancang selaras dengan struktur ruang, pola ruang serta sarana dan prasarana wilayah,” tuturnya.
Prayitno juga menyorot soal di Kalimantan Selatan sebagai entry point, membaca tantangan wilayah berbasis sumber daya alam dan peluang hilirisasi nontambang. Daerah ini mencerminkan tantangan banyak wilayah berbasis SDA, kuat pada sektor primer tapi nilai tambah lokal masih perlu diperbesar lagi. Pertambangan masih menjadi penopang penting ekonomi daerah, diversifikasi ekonomi menjadi kebutuhan strategis.
“Kalsel digunakan sebagai entry point untuk membaca tantangan hilirisasi Kalimantan, bagaimana daerah berbasis SDA dapat memperkuat pengolahan lokal, mengangkat nilai tambah dan membangun ekonomi yang lebih inklusif serta berkelanjutan,” kata Prayitno.
Menurut dia, ketergantungan tambang masih tinggi, sehingga diversifikasi menjadi mendesak, sementara risiko ekonomi ekstraktif menunjukkan pentingnya memperluas basis pertumbuhan daerah tersebut.
“Selama pertambangan masih tetap dominan, maka diversifikasi dan hilirisasi nontambang menjadi kebutuhan strategis, guna memperkuat ketahanan ekonomi,” ujarnya.
Ia berkata, hilirisasi bukan sekadar membangun pabrik, tetapi membangun ekosistem rantai nilai. Nilai tambah lokal tumbuh, ketika semakin banyak tahapan rantai nilai dilakukan di daerah.
Hilirisasi yang kuat tidak dibangun hanya dengan pabrik, tetapi dengan ekosistem rantai nilai, yang menghubungkan produksi, pengolahan, kemasan, branding, distribusi dan pasar, agar manfaat ekonomi lebih banyak tinggal di daerah.
Fenomena hilirisasi muncul kuat dalam kampanye nasional pada 2024, sebagai strategi peningkatan nilai tambah, penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi nasional.
Kini hilirisasi telah bergerak dari narasi kampanye, menjadi agenda kebijakan nasional. Tantangan berikutnya adalah, bagaimana agenda tersebut diterjemahkan menjadi strategi wilayah yang konkret, inklusif dan berkelanjutan bagi Kalimantan.
Tujuan hilirisasi adalah meningkatkan nilai tambah domestik, memperluas basis industri, menciptakan lapangan kerja, mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah dan memperkuat daya saing serta kemandirian ekonomi.
Di negara maju, hilirisasi ditempatkan dalam inovasi teknologi, R&D, manufaktur dan daya saing global. Negara berkembang memakai hilirisasi untuk mengejar nilai tambah, mengurangi ekspor bahan mentah dan memperkuat industri domestik.
“Hilirisasi yang berhasil, bukan hanya mengubah bahan mentah menjadi produk, tetapi juga memastikan produk tersebut bernilai, dibutuhkan, dipercaya dan dipilih oleh konsumen,” tegas Prayitno.**












Discussion about this post