Kepala Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat, Muh Saichudin, S.Si, M.Si mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Barat (Kalbar) pada triwulan II tahun 2026 berada di angka 5,61 persen secara tahunan (yoy). Melambat, tapi masih solid, dibandingkan pertumbuhannya pada triwulan pertama yang sebesar 6,14 persen.
“Pertumbuhan ekonomi Kalbar sedikit melambat, jika dibandingkan dengan triwulan pertama. Namun angka tersebut masih termasuk tinggi, ekonomi Kalbar bertumbuh solid sebesar 5,61 persen, sementara secara nasional angkanya 5,29 persen. Kita masih di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Jadi masih tinggi,” tutur Saichudin di kantornya, Kamis 6 Agustus 2026.
Menurut Saichudin, menghitung angka pertumbuhan ekonomi bukan masalah persentase naik turunnya, tapi dilihat dari nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada triwulan 2-2025 dengan triwulan 2-2026.
PDRB Kalbar pada triwulan II 2026 Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) sebesar Rp 90.105,79 miliar dan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK 2010) sebesar Rp 44.846,80 miliar, pertumbuhan ekonomi 5,61 persen.
Sedangkan PDRB di triwulan II-2025 ADHB sebesar Rp 81.108,71 miliar dan ADHK sebesar Rp 42.463,86 miliar dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,59 persen.
“Jadi titik dua poin itulah yang menjadi acuan penghitungan ekonomi. Nah, di Kalbar, meskipun melambat tapi pertumbuhannya masih tetap tinggi,” kata Saichudin.
Keberadaan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) dalam program MBG di tahun 2025 masih sedikit jumlahnya, begitu pula KDMP (Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih) juga belum terbentuk sehingga pertumbuhan ekonomi masih belum terlihat lonjakannya.
Di tahun 2026, ketika jumlah SPPG bertambah banyak, membuat pergerakan pertumbuhan ekonomi semakin meninggi dan mencapai 6,14 persen di triwulan pertama 2026, kemudian sedikit melambat di triwulan dua, namun masih tetap solid. Saat ini jumlah SPPG sudah berada di atas 450 unit lebih.
Pertumbuhan ekonomi Kalbar sebagian besar disebabkan oleh konsumsi listrik rumah tangga, naiknya pengadaam listrik dan gas dari PLN yang bertumbuh sekira 20 persen untuk rumahtangga.
“Naiknya pengadaan listrik rumahtangga salah satunya dipicu oleh adanya mobil listrik yang sudah mulai banyak di Kalbar. Energi untuk kebutuhan mobil lisrik ini, minimal membutuhkan lima sampai 6 ribu watt dalam rumahtangga,” kata Saichudin.









Discussion about this post