Tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) Norjemah Pihtar Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak hadir di Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Barat (Kalbar) untuk mempresentasikan prototipe inovasi penerjemah suara Bahasa Dayak Serawai Ambalau dan Bahasa Indonesia.
Dalam kegiatan tersebut, tim memperkenalkan Norjemah Pihtar sebagai perangkat penerjemah suara dua arah yang dirancang bekerja secara real-time dan offline. Inovasi ini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu komunikasi sekaligus mendukung pelestarian Bahasa Dayak Serawai Ambalau.
Tim juga melakukan User Acceptance Testing (UAT) untuk memperoleh validasi terhadap prototipe yang dikembangkan. Pengujian tersebut menjadi bagian dari proses evaluasi untuk melihat penerimaan, fungsi, dan kesesuaian perangkat dengan kebutuhan pengguna.
Kepala Balai Pelestarian, Juliadi, S.S., M.Sc., menyambut baik kehadiran Norjemah Pihtar dan mengapresiasi upaya tim dalam mengangkat bahasa dan budaya daerah melalui teknologi. Ia menilai alat tersebut sudah sangat baik serta menyatakan dukungan terhadap program yang dikembangkan mahasiswa UNTAN.
“Alat ini sudah sangat bagus. Kami juga berterima kasih karena sudah mau mengangkat kebudayaan. Tentunya kami dukung penuh atas program ini karena program ini memang sangat luar biasa, apalagi mengangkat bahasa dan budaya yang memang jarang diangkat,” ujar Juliadi.
Juliadi juga menyampaikan ketertarikannya untuk mencoba secara langsung penggunaan Norjemah Pihtar. Menurutnya, praktik menggunakan perangkat tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mengenal lebih banyak bahasa Dayak.
“Saya juga ingin mencoba dan praktik langsung menggunakan alat ini karena saya ingin tahu banyak bahasa Dayak ini,” katanya.
Dalam pengembangan selanjutnya, Juliadi memberikan masukan agar cakupan Norjemah Pihtar dapat diperluas dengan menambah kosakata dan kalimat. Penambahan tersebut dinilai dapat membuat penggunaan perangkat menjadi lebih luas.










Discussion about this post