Tiga orangutan berhasil diselamatkan dari Desa Penjalaan dan Desa Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat pada Sabtu 12 September 2026. Tiga orangutan ini, terdiri dari sepasang induk dan anak serta satu orangutan jantan dewasa. Mereka ditemukan dalam kondisi memprihatinkan, akibat habitatnya sekaligus buffer area untuk Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) mengalami kebakaran parah.
Evakuasi penyelamatan satwa endemik yang dilindungi ini, dilakukan oleh Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) serta didukung oleh Yayasan Palung, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Penjalaan, LPHD Padu Banjar, serta masyarakat setempat.
Dalam dua operasi penyelamatan di hari yang sama, tim berhasil mengevakuasi tiga individu orangutan, terdiri dari sepasang induk dan anak di Desa Penjalaan serta satu orangutan jantan dewasa di Desa Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir.
Dua individu orangutan yang ditemukan di Desa Penjalaan kemudian diberi nama Mama Penja dan Penja. Keduanya ditemukan di salah satu kebun sawit milik warga transmigrasi.
Tim medis menemukan sejumlah luka dan bekas cedera pada tubuhnya, antara lain bekas luka cukup panjang pada bagian punggung kanan, sejumlah bekas luka pada kaki, serta satu luka yang berdasarkan pemeriksaan awal dapat merupakan bekas abses atau cedera akibat proyektil.

Tim juga menemukan benda asing yang tertanam pada bagian tangan kanan yang diduga merupakan peluru, serta bekas jerat. Dari identifikasi individu, tim kemudian memastikan bahwa orangutan jantan tersebut adalah Kumbang, individu yang pernah diselamatkan pada 2022.
Tim dokter hewan yang melakukan pemeriksaan menyeluruh menggunakan stetoskop, menemukan adanya suara abnormal pada bagian paru-paru kanan. Sebelumnya, tim menerima informasi, bahwa Kumbang sempat terdengar batuk. Kondisi ini diduga akibat asap dari karhutla karena ketika dilakukan evakuasi, kondisi kebun ini dipenuhi kabut asap yang cukup tebal. Tim medis kemudian memberikan dukungan berupa cairan infus dan induksi oksigen.
“Saat kami tiba di lokasi, kami melihat induk orangutan dan anaknya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Keduanya terlihat sangat kurus dan lemas, dan hampir tidak bergerak dari sarangnya, meskipun banyak orang berada di sekitar mereka,” ujar Dr. Karmele Llano Sanchez, dokter hewan satwa liar sekaligus Direktur Utama YIARI.
Setelah orangutan berhasil dibius menggunakan blow dart, tim medis segera memberikan pertolongan pertama, termasuk pemberian cairan infus dan oksigen, sebelum mengevakuasi keduanya ke Pusat Rehabilitasi YIARI untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut.
Karmele menambahkan, saat dilakukan pemeriksaan, induk orangutan terlihat sangat dehidrasi dan pucat. “Kami juga menemukan luka bakar pada kedua kakinya, hingga menyebabkan kulit terkelupas. Kemungkinan luka tersebut terjadi karena orangutan berjalan di atas tanah gambut yang terbakar,” jelasnya.
Kondisi giginya juga cukup memprihatinkan dan terlihat banyak mengalami pengikisan. Salah satu kemungkinan adalah karena keterbatasan pakan akibat kebakaran, sehingga orangutan terpaksa mengonsumsi kulit pohon atau jenis makanan lain yang tidak sesuai secara terus-menerus.
“Yang paling menyedihkan bagi saya adalah, ketika orangutan mulai terbangun dari pembiusan. Ia tidak menunjukkan perilaku agresif atau berusaha melawan. Ia hanya mencari makanan. Seolah-olah yang ada dalam pikirannya hanya satu: mencari sesuatu untuk dimakan. Itu menunjukkan betapa laparnya ia,”tutur Karmele.
Berdasarkan pemeriksaan dokter hewan dan hasil pemeriksaan laboratorium setelah orangutan tiba di klinik, induk orangutan diketahui mengalami anemia berat.










Discussion about this post