Tiga Ekor “Baringayong” yang merupakan bahasa yang digunakan oleh masyarakat Dayak Kanayatn/Ahe di Kalimantan Barat untuk merujuk pada Buaya Sinyulong (Tomistoma schlegelii) berukuran masing masing 33 centimeter berhasil dievakuasi dari nelayan sungai Dusun Teredu di Desa Anjungan Dalam, Kecamatan Anjungan, Kabupaten Mempawah.
Satwa dilindungi Penuh itu saat ini tengah menjalani rehabilitasi di Tempat Penampungan Sementara di Kantor Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak. Buaya Sinyulong tersebut ditemukan dari hasil pengambilan telur di sarang kemudian menetas di dalam rumah milik nelayan Dusun Teredu.
Proses evakuasi berawal dari laporan masyarakat, terkait adanya anakan buaya yang menetas dan diindikasikan hendak diperdagangkan oleh salah satu warga Desa Anjungan Dalam, Kecamatan Anjungan, Kabupaten Mempawah, pada 20 Agustus 2026 sekitar pukul 06.00 WIB.
Informasi tersebut diteruskan ke Balai Pengelolaan Kelautan (Balai PK) Pontianak untuk dapat dilakukan evakuasi lebih lanjut. Setelah menerima laporan, Tim Respon Cepat Balai PK Pontianak, pagi itu juga langsung bergerak cepat melakukan konfirmasi dan koordinasi dengan warga serta instansi terkait guna mengetahui perkembangan kondisi satwa dilindungi tersebut.
Tim yang didampingi oleh Praktisi Ahli melakukan perjalanan dari Kota Pontianak menuju ke lokasi dan tiba pukul 12.00 WIB. Setibanya di lokasi, Tim langsung melakukan pengumpulan bahan keterangan (pulbaket) dan pengecekan terkait kondisi buaya tersebut, sesuai dengan standar prosedur penyelamatan satwa (Animal Welfare).
Pemantauan dan pemeriksaan kesehatan lanjutan terhadap tiga ekor anakan buaya Sinyulong dilakukan secara dalam jaringan (daring) melalui panggilan video bersama dokter hewan spesialis, drh. Rio dari Sumatera Utara.
Dari hasil evaluasi klinis awal, kondisi kesehatan ketiga individu satwa secara umum terpantau cukup baik. Namun demikian, determinasi jenis kelamin belum dapat dipastikan, mengingat ukuran satwa yang masih sangat kecil dengan rata-rata Panjang Total (Total Length) 33 cm.
Pada area ventral abdomen ketiga anakan buaya tersebut, masih dijumpai sisa kantung kuning telur (yolk sac). Kondisi ini menempatkan satwa pada kriteria rentan mengalami retensi penyerapan kuning telur yang berisiko memicu infeksi jika tidak tertangani secara optimal.
Sebagai langkah medis pencegahan, drh. Rio menyarankan pembuatan wadah inkubasi/pemeliharaan sementara selama periode rehabilitasi guna memastikan proses penyerapan yolk sac berjalan sempurna, di bawah pemantauan intensif secara berkala.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan verifikasi lapangan untuk meninjau lokasi penemuan sarang telur buaya Sinyulong di Kecamatan Anjungan dan Kecamatan Toho pascapemeriksaan kondisi satwa.
Secara hidrologis, perairan di kedua lokasi administratif tersebut berada dalam satu bentang aliran sungai yang menyatu. Konfirmasi mengenai keberadaan populasi buaya Sinyulong di kawasan tersebut, disebabkan oleh kondisi habitat yang mendukung serta diperkuat oleh informasi dari masyarakat setempat.
Dion dan Along, warga Kecamatan Toho yang sehari-hari beraktivitas sebagai pencari ikan, menyatakan, bahwa kawasan perairan terhubung tersebut, memang merupakan habitat alami buaya Sinyulong sejak lama.
Penemuan buaya Sinyulong (Tomistoma schlegelii) di wilayah baru, terutama di luar ekosistem rawa gambut atau sungai air hitam yang menjadi habitat utamanya, merupakan kejadian penting yang memicu respons konservasi dan mitigasi interaksi manusia dan satwa.
Indikasi Penyebab Pergeseran ke Daerah Baru memungkinkan terjadi, bisa saja disebabkan oleh beberapa faktor seperti : Degradasi dan Fragmentasi Habitat yaitu Alih fungsi lahan rawa gambut dan penyempitan koridor sungai memaksa individu menjelajah lebih jauh untuk mencari ruang hidup.










Discussion about this post