Sebagai perguruan tinggi yang berada di wilayah tropis dan berbatasan langsung dengan negara tetangga, Untan juga terus memfokuskan pengembangan riset pada berbagai isu strategis, seperti ketahanan pangan, kesehatan, energi, pelestarian lingkungan, hilirisasi sumber daya alam, transformasi digital, tata kelola pemerintahan, hingga perlindungan hukum.
Seluruh arah pengembangan tersebut, telah tertuang dalam Rencana Pengembangan Jangka Menengah (RPJM) Untan 2025–2029.
“Ke depan, kami ingin hasil penelitian para Guru Besar tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah saja, tetapi mampu dihilirisasi menjadi teknologi, kebijakan, maupun produk yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat dan mendukung pembangunan Kalimantan Barat serta Indonesia,”terangnya.
Prof. Garuda Wiko menegaskan bahwa pengukuhan sembilan Guru Besar ini sejalan dengan kebijakan Diktisaintek Berdampak yang mendorong perguruan tinggi tidak lagi hanya berorientasi pada publikasi ilmiah, tetapi juga menghasilkan inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah.
Menurutnya, hasil riset harus mampu dihilirisasi agar memberikan nilai tambah bagi pembangunan daerah maupun nasional.
“Kami juga berharap dosen-dosen Lektor Kepala yang saat ini berjumlah 249 orang dapat segera menyusul menjadi Guru Besar. Dengan semakin banyak profesor, ekosistem riset dan inovasi di Untan akan semakin kuat sehingga pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.**










Discussion about this post