Data yang terdokumentasi secara sistematis dapat membantu lembaga jasa keuangan memahami profil usaha peternak secara lebih akurat, membuka peluang pengembangan penilaian kredit (credit scoring) berbasis data, serta memperluas akses terhadap pembiayaan, asuransi ternak dan layanan keuangan formal lainnya.
Digitalisasi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional koperasi, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi ribuan peternak dan keluarganya.
“Ketika teknologi digunakan untuk memperkuat usaha rakyat, dampaknya tidak hanya meningkatkan produktivitas, memperluas akses terhadap pembiayaan, namun juga memperkuat ketahanan usaha dan menciptakan peluang kerja yang lebih baik,” ungkap Simrin Singh, Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste.
“Kemitraan ini menunjukkan bagaimana inovasi, kebijakan publik dan kolaborasi multipihak dapat bekerja bersama untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif,” lanjutnya.
Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste dan ASEAN, Olivier Zehnder, menegaskan dukungan pemerintah Swiss dengan mengatakan ketika peternak memiliki akses yang lebih baik terhadap informasi, teknologi dan layanan keuangan, mereka memiliki kapasitas yang lebih besar untuk berinvestasi, semakin produktif dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi daerah.
“Kami bangga dapat mendukung kemitraan yang menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Peluncuran ini juga menjadi momentum pengukuhan komitmen bersama antara pemerintah, koperasi, lembaga jasa keuangan, industri pengolahan susu dan mitra pembangunan untuk terus memperkuat ekosistem sektor sapi perah di Jawa Timur.
Model kolaborasi ini pun diharapkan dapat menjadi contoh bagi pengembangan rantai nilai UMKM lainnya di Indonesia demi memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional maupun daerah.**










Discussion about this post