Pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) di triwulan 1-2026 bergerak tinggi mencapai angka 6,14 persen. Keberadaan Pelabuhan Kijing atau Terminal Kijing di Kabupaten Mempawah, menjadi pemantik pertumbuhan tinggi tersebut. Kalimantan Barat memimpin pertumbuhan ekonomi teratas di wilayah Kalimantan.
Dari 14 kabupaten/kota di provinsi ini, Mempawah mencatat pertumbuhan paling kencang, yakni 8,24 persen. Tak dipungkiri, pelabuhan internasional Terminal Kijing, membuat perekonomian bergerak cepat dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang solid di Kalimantan Barat.
Padahal, dulunya sekira empat tahun lalu, Mempawah termasuk wilayah yang tertinggal. Jumlah penduduknya 318 ribu jiwa, dengan angka pengangguran tinggi. Namun sekarang sudah melandai, sebagian pekerjaan telah diisi oleh masyarakat setempat.
Beberapa tahun lalu, posisi pertumbuhan ekonomi tertinggi di Kalimantan Barat selalu berada di Kabupaten Ketapang. Namun sejak dua tahun terakhir, Mempawah sukses mengungguli semua daerah di provinsi, pertumbuhan ekonominya melesat menggeser wilayah lainnya.
Tingginya pertumbuhan ekonomi Mempawah, ditopang oleh keberadaan Pelabuhan Kijing. Karena setelah beroperasinya pelabuhan internasioanal tersebut, banyak perusahaan-perusahaan besar yang membangun pabriknya tak jauh dari area pelabuhan, di antaranya PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk, perusahaan agribisnis yang berfokus pada pengolahan kelapa sawit dan produksi minyak goreng kemasan. Perusahaan Aneka Tambang Tbk (ANTAM) juga telah membangun pabriknya di sini dan beberapa perusahaan lain.
“Jadi, pelabuhan itu sudah berdampak bagi perekonomian Mempawah. Bahkan sejak awal dimulainya pembangunan proyek pelabuhan tersebut, masyarakat malah sudah menikmati ganti untung miliaran rupiah dari hasil penjualan lahannya. Perputaran uang yang lebih besar terjadi di Mempawah,” kata Prof Dr H Eddy Suratman, S.E, M.A, pengamat ekonomi Kalbar yang juga Komisaris Utama Bank Kalbar.

Menurut Prof Eddy, keberadaan Terminal Kijing ikut mendorong perekonomian di Kalimantan Barat, karena akan lebih mudah melakukan kegiatan ekspor impor dan lebih dekat.
“Dulu, CPO kita kan tidak bisa keluar langsung ke negara lain, tapi harus transit di Pekan Baru atau Jakarta, baru tercatat ekspornya dari provinsi lain, bukan Kalbar. Dan itu, membutuhkan biaya tambahan bagi industri perkebunan di Kalbar. Sekarang, dengan adanya pelabuhan internasional Kijing, otomatis semakin memudahkan perusahaan-perusahaan di daerah ini melakukan ekspor dan tercatat di Kalbar, sekaligus mengurangi pembiayaan,” ujarnya ketika ditemui di kantornya, Rabu 20 Mei 2026.
“Artinya, kehadiran pelabuhan internasional Kijing, pasti akan mendorong pertumbuhan ekonomi Kalbar,” tegas Prof Eddy.
Tingginya pertumbuhan ekonomi Kalbar, selain kontribusi dari pelabuhan Kijing, di samping pertambangan, juga pengeluaran pemerintah melalui program MBG serta Sekolah Rakyat yang naiknya mencapai angka 29 persen.
Belanja pemerintah dan masyarakat juga tinggi, karena ada momen Ramadhan, Idul Fitri, Imlek dan Capgomeh yang menumpuk di triwulan pertama 2026.
“Belanja masyarakat tumbuh, belanja pemerintah tumbuh, pertambangan juga tumbuh. Itu semua mendorong pertumbuhan ekonomi kita, yang biasanya hanya di kisaran 4 atau 5 persen saja,” ujarnya.
Begitu pula program hilirisasi di Kalbar juga sudah bergerak, setelah dihentikannya ekspor bauksit mentah pada tahun 2023 lalu, yang memaksa pengusaha membangun smelter. Meskipun belum terlihat peningkatan yang cepat, tapi progresnya sedang terjadi, di antaranya di Kabupaten Ketapang. Sementara di Mempawah, juga sudah berjalan dan terlihat nilai tambahnya pada peningkatan perekonomian di daerah itu.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar, Muh Saichudin juga mengakui, bahwa pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat secara keseluruhan turut ditopang oleh keberadaan Terminal Kijing.
“Pada triwulan 1 tahun 2026, Kalbar berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6,14 persen, tertinggi di regional Kalimantan dan sukses melampaui rerata nasional,” kata Saichudin.
Ia mengungkapkan, bahwa capaian tersebut didorong oleh sektor pertambangan yang meningkat hingga 34,14 persen serta lonjakan investasi di angka Rp11,69 triliun. Sementara nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp86,78 triliun, berkontribusi sekira 17,61 persen terhadap total PDRB regional Pulau Kalimantan.
Tulang Punggung Ekspor Impor Kawasan Barat Indonesia
Pelabuhan Kijing atau Terminal Kijing merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) dan Pelabuhan internasional terbesar di Pulau Kalimantan, yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Agustus 2016.
Berlokasi strategis di pesisir barat Kalimantan, menghadap langsung ke jalur perdagangan internasional Selat Malaka, pelabuhan ini memang dirancang untuk kapal besar berkapasitas hingga 100.000 DWT, dan menjadi tulang punggung ekspor impor kawasan barat Indonesia dengan melayani CPO, bauksit, alumina serta petikemas.
Selain Terminal Kijing yang menjadi nafas perekonomian Kalimantan Barat, juga ada tiga area terminal lainnya, yakni Kawasan Dwikora di Pontianak yang melayani general cargo, Pelabuhan Perintis Sintete, melayani kebutuhan logistik regional dan Pelabuhan Perintis Ketapang melayani berbagai komoditas nonpetikemas.
Kesemua pelabuhan tersebut, dikelola oleh PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) Nonpetikemas, yang merupakan anak usaha Pelindo dan masuk dalam Sub Holding Pelindo Multi Terminal setelah merger pada 1 Oktober 2021.
PTP Nonpetikemas merupakan operator terminal nonpetikemas di Indonesia yang berpengalaman dalam menangani kegiatan bongkar muat kargo curah cair, kargo curah kering, general cargo dan lain-lain. Secara keseluruhan total ada sebelas pelabuhan yang dikelola oleh PTP Nonpetikemas yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air.

















Discussion about this post