Pertumbuhan cepat Terminal Kijing, didorong oleh optimalisasi infrastruktur dan peralatan sejak awal operasi, disertai penataan alur bongkar muat yang efisien, sehingga kapal bisa dilayani lebih cepat dan konsisten. Optimalisasi layanan ini, membangun kepercayaan pengguna jasa, membawa volume kargo terus meningkat.
Terminal Kijing punya posisi yang sangat strategis, karena bukan sekadar pelabuhan biasa, tetapi menjadi katalisator yang mendukung hilirisasi dan ketahanan pasok nasional, khususnya untuk komoditas ekspor impor dan proyek besar, seperti pembangunan smelter Grade Alumina Refinery yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN).
Kijing membantu memperlancar barang dari hulu ke hilir, serta memperkuat ketahanan rantai pasok di wilayah barat Indonesia, sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi lokal dan nasional.
Direktur Utama PTP Nonpetikemas, Indra Hidayat Sani berkata, Terminal Kijing telah menjadi urat nadi perekonomian Kalimantan Barat. Menjadi pintu gerbang ekspor utama produk turunan kelapa sawit.
Didukung oleh sarana bongkar muat modern seperti harbour mobile crane, excavator, wheelloader, mobile conveyor, flexible hose dan portable filling station. Sejumlah komoditas lain seperti batubara, pupuk, palm kernel, bauksit dan kargo berat juga menjadi bagian dari layanan terminal ini.
“Tak kurang dari 84 perkebunan kelapa sawit, 132 perusahaan industri CPO dan 42 terminal khusus, mendukung ekosistem komoditas di wilayah tersebut,” jelas Indra.
Dengan infrastruktur modern dan fasilitas bongkar muat mumpuni, Terminal Kijing kini memainkan peran penting dalam mendukung arus barang, khususnya untuk proyek-proyek infrastruktur di wilayah barat Indonesia. Tak hanya mendorong ekspor, Kijing juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan rantai pasok nasional.

Terminal Kijing terus menunjukkan perannya secara mengesankan. Throughput melonjak dari 1,95 juta ton pada 2023, terkerek menjadi 2,75 juta ton pada 2024. Hingga November 2025, total throughput mencapai angka 3,59 juta ton, didominasi curah kering sebesar 2,03 juta ton.
Beberapa komoditas yang ditangani merupakan barang milik Mining Industry Indonesia (MIND ID) Group, khususnya PT Borneo Alumina Indonesia (BAI). Komoditas tersebut meliputi bauksit, batu bara dan aluminium hidroksida sebagai muatan curah kering, caustic soda liquid sebagai muatan curah cair serta aluminium hidroksida yang ditangani sebagai general cargo.
Komoditas curah kering mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 342 persen, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Rerata throughput mencapai angka 3.620 ton per ship per day (T/S/D), melonjak tajam dari 879 T/S/D hingga November 2024.
“Pertumbuhan volume kargo di Terminal Kijing merupakan sinyal positif meningkatnya kepercayaan pengguna jasa. Dari sisi operasional, kami terus berupaya menjaga kelancaran dengan mengoptimalkan proses bongkar muat, penataan alur logistik dan pengelolaan waktu sandar kapal secara efisien,” kata Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha yang juga Plt Direktur Operasi PTP Nonpetikemas, Dwi Rahmad Toto S.
Peran strategis Terminal Kijing dalam mendukung arus logistik dan perdagangan, baik di tingkat nasional maupun global terlihat dari kinerja operasionalnya, yang menunjukkan tren pertumbuhan positif.
PT Pelindo Regional 2 Pontianak mencatat, jumlah kapal sandar di terminal ini sepanjang tahun 2025 sebanyak 741 kapal, naik 15 persen dibandingkan tahun 2024 yang angkanya mencapai 643 kapal.
Dari total kunjungan kapal tersebut, sebanyak 74,5 persen adalah kapal domestik, sementara 25,5 persen lainnya kapal internasional. Sepanjang tahun 2025, Terminal Kijing juga mencatatkan kinerja arus barang yang signifikan. Untuk komoditas curah cair, volume yang dilayani mencapai 1,5 juta ton, sementara curah kering 2,5 juta ton dan general cargo 116 ribu ton.
Dari sisi ekspor dan impor, ekspor curah cair berupa CPO dan turunannya mencapai 460.988 ton. Sedangkan impor curah kering tercatat sebesar 392.181 ton.
Memasuki tahun 2026, Terminal Kijing semakin memperkuat layanan petikemas dengan mendatangkan satu unit Quay Container Crane (QCC) dan dua unit Rubber Tyred Grantry (RTG) guna menunjang kegiatan bongkar muat kontainer. Sebelumnya, terminal ini telah dilengkapi dua unit Harbour Mobile Crane (HMC), dua unit reach stacker serta dua unit head truck dan dua chasis 40 feet.
General Manager PT Pelindo Regional 2 Pontianak, Kalbar Yanto menuturkan, bahwa peningkatan trafik kapal dan arus barang di Terminal Kijing merupakan hasil sinergi berbagai pihak, di antaranya adalah PTP Nonpetikemas.
“Dengan berbagai capaian dan penguatan fasilitas tersebut, Terminal Kijing diharapkan semakin berperan sebagai gerbang ekspor impor strategis Kalimantan Barat, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan,” imbuh Yanto.
Sementara itu, Dirut PT Pelindo, Achmad Muchtasyar menegaskan, bahwa Terminal Kijing bukan hanya penting bagi Kalimantan Barat, tetapi juga berperan strategis secara nasional.
“Pelabuhan Kijing adalah motor penggerak ekonomi, tidak hanya untuk Kalbar tetapi juga bagi Indonesia. Keberadaannya sangat strategis dalam mendukung arus barang ekspor dan impor,” ujarnya.
Dalam upaya mengatasi tingginya arus lalulintas di Pelabuhan Kijing, Pemprov Kalimantan Barat bersama Pelindo Regional 2 Pontianak kini tengah membangun infrastruktur pendukung, yang difokuskan pada percepatan Jalan Akses Terminal Kijing dan proyek skala besar Jalan Tol Bandara Supadio – Pelabuhan Kijing sepanjang 100,27 kilometer guna mengurai kemacetan lalu lintas Pontianak – Mempawah.
Infrastruktur ini, diprioritaskan agar truk petikemas dan komoditas unggulan seperti CPO dan bauksit dapat didistribusikan dengan lancar dan aman.**
Pewarta/Editor : Sri Yuliantiningsih












Discussion about this post