Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan krisis yang tengah melanda industri media nasional saat ini tidak lagi sekadar persoalan bisnis perusahaan pers, melainkan telah berkembang menjadi ancaman serius bagi kualitas informasi publik dan kesehatan ruang demokrasi digital.
Menurut Wamen Nezar, disrupsi teknologi digital telah mengguncang fondasi bisnis media, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global.
Kemudahan mendirikan media saat ini tidak otomatis membuat media mampu bertahan secara ekonomi di tengah perubahan pola distribusi informasi dan pergeseran belanja iklan ke platform digital.
“Saat ini membuat media itu mudah, yang susah itu jualnya. Sekarang semua orang bisa bikin media, tapi apakah bisa bertahan dan sustainable? Itu tantangannya,” kata Wamen Nezar saat menerima audiensi manajemen Saburai TV di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Rabu.
Ia menjelaskan, hampir seluruh perusahaan media masih mencari model bisnis baru yang mampu menopang keberlanjutan industri di era dominasi platform digital dan kecerdasan artifisial (AI). Bahkan media besar pun menghadapi tekanan yang sama.
Wamen Nezar mengungkapkan laporan dari Asosisasi Media Siber Indonesia (AMSI), yang menyebut kehadiran fitur AI pada mesin pencari digital menyebabkan penurunan trafik media secara drastis hingga 10 kali lipat.
Kondisi itu berdampak langsung pada penurunan pendapatan perusahaan media dan memicu gelombang efisiensi hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Ada media yang biasanya memperoleh puluhan juta page views per hari, sekarang turun sampai hampir sepuluh kali lipat. Ketika traffic turun, revenue juga turun. Akibatnya perusahaan harus mengendalikan biaya dan akhirnya terjadi PHK,” jelasnya.















Discussion about this post