“Secara garis besar, kota-kota dalam peringkat 10 besar kota dengan skor terendah dalam Laporan IKT 2025 masih menghadapi tantangan pada aspek kepemimpinan politik (political leadership) dan kepemimpinan birokrasi (bureaucratic leadership) yang kurang kondusif dalam kemajuan toleransi,” kata Halili.
Ia menilai, kelemahan kepemimpinan tersebut kerap bermuara pada kristalisasi favoritisme terhadap kelompok tertentu serta formalisasi peraturan-peraturan daerah yang berbasis agama.
Secara nasional, studi ini mencatatkan skor rerata toleransi di angka 4,97 pada tahun 2025, terjadi peningkatan sebesar 0,05 dibandingkan skor rerata nasional pada tahun 2024 yang berada di angka 4,92
Kenaikan skor rerata dari skala 1-7 ini mengindikasikan, bahwa kondisi toleransi di Indonesia tergolong cukup baik dan terus menunjukkan perbaikan yang berkelanjutan.
Adapun objek kajian IKT 2025 mencakup 94 kota dari total 98 kota yang tersebar di seluruh Indonesia. Penilaian tersebut berdasarkan empat variabel yang dielaborasi menjadi delapan indikator, meliputi regulasi pemerintah, regulasi sosial, tindakan pemerintah serta demografi sosio-keagamaan.
Berikut Daftar Kota Paling Toleran di Indonesia (Indeks Kota Toleran 2025/2026) berdasarkan Laporan Setara Institute:
- Salatiga (Jawa Tengah) menempati posisi teratas (skor 6,492) berkat inovasi dan peraturan daerah (Perda) khusus toleransi.
- Kota Singkawang, Kalimantan Barat (skor 6,391) berkat kuatnya kolaborasi lintas etnis, seperti Festival Cap Go Meh 2026.
- Semarang, Jawa Tengah (skor 6,160) diakui atas kerukunan warga yang tinggi.
- Pematangsiantar (skor 6,084).
- Bekasi (skor 6,037).
- Sukabumi (skor 5,973).
- Magelang (skor 5,805).
- Kediri (skor 5,792).
- Tegal (skor 5,733).
- Ambon (skor 5,657). **














Discussion about this post