Namun ketika kejadian tersebut terulang, Mitrovic akhirnya menjawab panggilan. Terdengar suada dengan aksen Amerika yang mengaku dari tim dukungan Google dan mengkonfirmasi adanya aktivitas mencurigakan di akun Gmail miliknya.
Nomor telepon yang digunakan memang terlihat valid sebagai milik Google, berdasarkan pencarian cepat. Bahkan, si penelepon menawarkan untuk mengirimkan email konfirmasi.
Sebagai seorang konsultan keamanan, Mitrovic menyadari adanya sesuatu yang tidak biasa. Email yang diterimanya, meskipun tampak meyakinkan, namun memiliki kolom To yang ditujukan ke alaman yang sebenarnya bukanlah milik Google.
Ini menunjukkan, bahwa percobaan phising tersebut telah dirancang dengan cermat untuk menipu pengguna yang kurang berpengalaman.
“Hampir dapat dipastikan, bahwa penyerang akan terus melakukan serangan hingga ke titik di mana apa yang disebut sebagai proses pemulihan akan dimulai,”kata Mitrovic.
Meski FBI telah memberi peringatan, namun Google sendiri belum mengeluarkan pengumuman resmi terkait kewajiban pengguna Gmail untuk mengganti alamat email mereka. Google menyatakan, telah memblokir lebih dari 99,9 persen spam, phising, dan malware di Gmail, namun menurut FBI langkah yang dilakukan itu tidaklah cukup.
McAfee menilai, revolusi AI berdampak baik dan buruk. Google bisa saja menggunakan AI untuk memberantas penipuan, tetapi penipu juga bisa menggunakan AI untuk menciptakan serangan yang sulit terdeteksi.**

















Discussion about this post