Risiko pasar juga relatif rendah, ditinjau dari Posisi Devisa Neto (PDN) tercatat stabil rendah sebesar 1,50 persen (Mei 2023: 1,57 persen), jauh di bawah threshold 20 persen. Selanjutnya, risiko yang terkait dengan suku bunga juga melandai, seiring dengan mulai melandainya yield SBN, karena semakin terbatasnya ruang kenaikan Fed Fund Rate (FFR) di AS.
“Untuk mengantisipasi potensi risiko yang mungkin timbul ke depan, kondisi industri perbankan tercatat cukup resilien dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) industri Perbankan sebesar 25,41 persen,” kata Mahendra.
Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 26 Juli 2023 menilai, perkembangan perekonomian global masih menunjukkan divergensi pemulihan, dengan pertumbuhan ekonomi AS jauh lebih baik dari ekspektasi, yaitu di kuartal II 2023 tumbuh sebesar 2,4 persen, dibanding proyeksi the Fed sebesar 1,0 persen sepanjang 2023, dan dengan tingkat inflasi juga terus menurun.
“Momentum pemulihan perekonomian Tiongkok dan Eropa, saat ini cenderung melemah dengan tekanan deflasi mulai terlihat di Tiongkok sementara tekanan inflasi di Eropa masih persisten tinggi,” ucap Mahendra.
Namun demikian, kata dia, secara umum kinerja perekonomian global masih lebih baik dari perkiraan awal. IMF meningkatkan proyeksi pertumbuhan perekonomian global di 2023 menjadi 2,7 persen dari proyeksi April 2023 yang sebesar 2,6 persen.
Pasar memperkirakan, siklus peningkatan suku bunga kebijakan di AS telah mendekati akhir saat The Fed menaikkan FFR sebesar 25 bps pada FOMC Meeting Juli 2023. Ini mendorong penguatan pasar keuangan global, baik di pasar saham, pasar surat utang, maupun pasar nilai tukar, yang juga disertai mulai terjadinya inflow ke mayoritas pasar keuangan emerging markets.
Di domestik, kinerja perekonomian nasional terpantau positif, terutama pada dunia usaha, yang terlihat dari peningkatan surplus neraca perdagangan, kembali meningkatnya PMI Manufaktur per Juli 2023 menjadi 53,3 . Sebelumnya pada Juni 2023 angkanya sebesar 52,5, serta peningkatan utilitas kapasitas industri.
“Namun demikian, potensi peningkatan kinerja sektor rumah tangga dan sisi permintaan secara umum masih perlu didorong. Terlihat dari berlanjutnya tren penurunan inflasi inti, moderasi penjualan ritel dan optimisme konsumen,” imbuhnya.**

















Discussion about this post