Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura (FEB Untan) Pontianak, kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan masyarakat perbatasan melalui kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa-Pengabdian kepada Masyarakat (KKM-PKM) Internasional yang dilaksanakan di Aula Kantor Desa Entikong, Kabupaten Sanggau, Sabtu 31 Juli 2026.
Mengusung tema Pemberdayaan Organisasi Pemuda Perbatasan melalui Program Inkubasi Bisnis Berbasis Potensi Lokal dan Transformasi Digital di Kawasan PLBN Entikong, kegiatan ini menjadi upaya nyata untuk memperkuat kapasitas kewirausahaan generasi muda di wilayah perbatasan.
Koordinator Program Studi Manajemen FEB Untan, Bintoro Bagus Purmono, mengatakan bahwa kawasan perbatasan memiliki potensi ekonomi yang besar sehingga perlu didukung melalui penguatan kualitas sumber daya manusia.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan program pengabdian yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga mampu menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
“Melalui KKM-PKM Internasional ini, kami ingin mendorong lahirnya wirausaha-wirausaha muda yang mampu mengembangkan potensi lokal secara inovatif dan memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana meningkatkan daya saing. Perguruan tinggi harus hadir sebagai mitra pembangunan masyarakat, terutama di kawasan perbatasan yang memiliki potensi strategis,” ujar Bintoro.
Kegiatan yang melibatkan Organisasi Pemuda Perbatasan Desa Entikong ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Desa Entikong. Kepala Desa Entikong, Joko, bersama jajaran pemerintah desa hadir dalam kegiatan sebagai bentuk komitmen untuk memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
Menurut Joko, penguatan kapasitas pemuda merupakan investasi penting bagi pembangunan desa. Ia berharap pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh peserta dapat menjadi bekal dalam mengembangkan usaha berbasis potensi lokal.
“Kami berharap para pemuda Desa Entikong semakin produktif, berani berwirausaha, dan mampu mengembangkan potensi lokal yang dimiliki desa menjadi usaha yang bernilai ekonomi. Semoga kerja sama seperti ini dapat terus berlanjut sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” kata Joko.
Ketua Panitia, Efa, menjelaskan bahwa tema yang diangkat dipilih karena selaras dengan kebutuhan masyarakat perbatasan yang tidak hanya memerlukan peningkatan kemampuan berwirausaha, tetapi juga pendampingan dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai bagian dari pengembangan usaha.
Ia menuturkan, kegiatan dirancang agar peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, melainkan juga mampu menyusun gagasan bisnis yang dapat dikembangkan setelah program berakhir.










Discussion about this post