Di tengah pesatnya perkembangan akal imitasi (AI) yang mengubah sistem kesehatan di berbagai negara, para pembuat kebijakan, tenaga kesehatan, perwakilan pekerja dan pengusaha, akademisi serta mitra pembangunan berkumpul pada Rabu 24 Juni dalam sebuah dialog kebijakan bertajuk Intersectionality in Action: A Deep Dive with Policymakers & Practitioners on AI, Health Workforce, and Serving Vulnerable Indonesian Workers.
Diselenggarakan oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), dialog kebijakan ini membahas bagaimana AI mengubah tenaga kerja kesehatan dan industri layanan kesehatan di Indonesia, sekaligus mengeksplorasi langkah-langkah praktis untuk memastikan bahwa inovasi teknologi mendukung pekerjaan yang layak, layanan kesehatan yang berkualitas serta hasil yang lebih adil bagi kelompok rentan.
Mulai dari alat diagnostik dan pemantauan penyakit hingga perencanaan tenaga kesehatan dan otomatisasi administrasi, AI semakin memengaruhi cara layanan kesehatan diberikan dan dikelola.
Kendati teknologi ini menawarkan peluang besar untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat keselamatan dan kesehatan kerja (K3), serta memperluas akses terhadap layanan kesehatan, pemanfaatannya juga memunculkan berbagai pertanyaan penting mengenai masa depan dunia kerja di sektor kesehatan.
Forum ini merupakan yang ke enam dalam rangkaian diskusi yang diselenggarakan ILO mengenai AI dan dunia kerja. Forum tersebut menghadirkan pidato kunci Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, yang disampaikan oleh Eko Sulistijo, Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Kesehatan.
Dalam sambutannya, Menteri Budi menekankan potensi AI dalam memperkuat sistem kesehatan Indonesia dan memperluas akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas, khususnya bagi masyarakat di daerah terpencil dan kurang terlayani.
“Seiring dengan upaya kita mendorong transformasi kesehatan, penting untuk memastikan bahwa teknologi dapat melengkapi dan mendorong kesetaraan dalam layanan kesehatan,” ujar Menteri Budi.
“Saat ini, Kementerian Kesehatan tengah menyusun kerangka kebijakan penggunaan AI di sektor kesehatan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk dokter, akademisi dan praktisi kesehatan,” lanjutnya.
Janine Berg, Peneliti Senior di Departemen Riset ILO di Jenewa, memaparkan berbagai peluang dan tantangan yang terkait dengan pemanfaatan AI di sektor kesehatan. Ia juga membagikan temuan dari studi ILO yang mengkaji dampak penggunaan model bahasa besar (large language models/LLMs) terhadap penalaran klinis dokter di Indonesia, Kenya dan Belanda.
“Temuan kami menunjukkan bahwa AI dapat memperkuat layanan kesehatan dan mendukung pengambilan keputusan klinis tanpa menggantikan tenaga kesehatan,” ujar Berg.
“Namun, pemanfaatan AI yang berhasil memerlukan pelatihan yang memadai, validasi yang ketat, perlindungan terhadap potensi kesalahan serta keterlibatan aktif tenaga kesehatan dalam tata kelola dan implementasi sistem AI,” katanya.











Discussion about this post