Diskusi ini berlangsung pada saat yang krusial ketika Indonesia tengah menjalankan agenda transformasi kesehatan yang ambisius, dengan fokus pada penguatan layanan kesehatan primer, layanan rujukan, ketahanan kesehatan, pembiayaan kesehatan, sumber daya manusia kesehatan serta teknologi kesehatan.
Di saat yang sama, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk kekurangan dan ketimpangan distribusi tenaga kesehatan, meningkatnya permintaan terhadap layanan kesehatan akibat perubahan demografi dan penuaan penduduk, serta kesenjangan yang masih terus terjadi dalam akses terhadap layanan kesehatan berkualitas antara wilayah perkotaan dan perdesaan.
Simrin Singh, Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, menekankan bahwa dampak AI terhadap sektor kesehatan di masa depan akan sangat bergantung pada bagaimana teknologi tersebut diatur dan diterapkan.
“AI harus dipandang sebagai alat pendukung, bukan pengganti tenaga kesehatan,” ujar Simrin.
Menurutnya, tantangan bagi para pembuat kebijakan, pengusaha dan pekerja adalah memastikan bahwa AI diterapkan dengan cara yang dapat meningkatkan hasil layanan kesehatan, memperkuat kondisi kerja, serta memperluas akses yang setara terhadap layanan kesehatan berkualitas.
Untuk mengeksplorasi berbagai peluang dan tantangan tersebut, forum ini menghadirkan beragam praktisi yang berada di garda terdepan layanan kesehatan. Para panelis terdiri dari dr. Laili Fathiyah, MPH, FISQua, Direktur Rumah Sakit Pelni; Dr. Naurah Zainar Aufaria, Sp.OK, praktisi kesehatan kerja yang berkiprah di sektor kelapa sawit di Papua dan Kalimantan Barat; dr. Adiwan Qodar, MM., CHRPF., CT, Asisten Deputi Kemitraan Fasilitas Kesehatan BPJS Kesehatan; serta dr. Muhammad Dzaky Darmawan, Wakil Presiden Bidang Internal CIMSA Indonesia.
Para panelis membahas bagaimana AI dapat mendukung tenaga kesehatan, meningkatkan alokasi sumber daya, memperkuat akuntabilitas dan efisiensi dalam pengelolaan klaim kesehatan, serta memperluas jangkauan layanan kesehatan ke daerah terpencil dan kurang terlayani.
Mereka juga menekankan pentingnya mengantisipasi berbagai risiko yang muncul seiring adopsi AI, seperti bias algoritma, perlindungan dan privasi data, kesenjangan akses terhadap teknologi, serta potensi dampaknya terhadap kondisi kerja, khususnya bagi pekerja dan kelompok masyarakat rentan yang menghadapi hambatan lebih besar dalam mengakses layanan kesehatan maupun teknologi digital.
Sesi ini juga diperkaya dengan pandangan dari perwakilan pekerja dan pengusaha. Afif Johan, Anggota Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, menyoroti pentingnya kesiapan tenaga kerja, perlindungan pasien dan akses yang setara terhadap layanan kesehatan di era AI.
Sementara itu, Doddy Darmawan dari Komite Kesehatan Digital APINDO menekankan peran inovasi, infrastruktur digital dan pengembangan keterampilan dalam memastikan bahwa adopsi AI dapat mendukung keberlanjutan usaha sekaligus meningkatkan kualitas layanan kesehatan.
Dengan melibatkan lebih dari 100 peserta dari berbagai kelompok pemangku kepentingan, forum ini bertujuan untuk memastikan bahwa manfaat AI tidak hanya berkontribusi pada penguatan sistem kesehatan, tetapi juga pada terwujudnya pekerjaan yang layak, tempat kerja yang lebih aman serta akses layanan kesehatan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat Indonesia, khususnya mereka yang paling rentan.**











Discussion about this post