Kekayaan hutan tropis Kalimantan menyimpan potensi besar yang tidak hanya berkaitan dengan pelestarian lingkungan, tetapi juga pengembangan ilmu pengetahuan, energi terbarukan, dan kesejahteraan masyarakat.
Bagi Prof. Rudianto Amirta, potensi tersebut menjadi bidang pengabdian yang telah ia tekuni selama puluhan tahun. Kini, pengalaman panjangnya di dunia akademik, membawanya ke posisi tertinggi sebagai Rektor Universitas Mulawarman (Unmul) periode 2026–2030.
Akademisi kelahiran Pemangkat, Kalimantan Barat, 25 Oktober 1972, itu resmi dilantik pada Selasa, 27 Oktober 2026, oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi di Jakarta.
Pelantikan tersebut membuka babak baru bagi Rudianto, yang selama ini dikenal melalui kiprahnya dalam penelitian teknologi biomassa, biokonversi kehutanan, serta pengembangan energi terbarukan.
Di tengah tantangan perubahan iklim, kebutuhan energi bersih, dan tuntutan agar perguruan tinggi menghasilkan inovasi yang berdampak, latar belakang keilmuan Rudianto menjadi relevan dengan arah pembangunan Kalimantan.
Tantangan yang dihadapinya kini adalah membawa kepakaran tersebut menjadi bagian dari strategi pengembangan universitas yang mampu bersaing sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bagi Rudianto, hasil hutan tidak semata-mata dipandang sebagai bahan baku industri. Melalui pendekatan ilmiah, biomassa dan limbah organik juga dapat menjadi sumber daya yang memiliki nilai tambah.
Fokus penelitiannya meliputi teknologi pulp dan kertas, konversi biomassa, biokonversi lignin, pirolisis cangkang kelapa sawit, serta pemanfaatan kayu cepat tumbuh untuk menghasilkan pelet biomassa dan bioenergi.
Salah satu bidang yang dikembangkannya adalah pemanfaatan teknologi pirolisis untuk mengolah limbah kayu dan tandan kosong kelapa sawit. Teknologi tersebut dikembangkan melalui penggunaan tungku pirolisis, termasuk drum kiln dan industrial metal kiln, di Kabupaten Paser dan Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Pendekatan ini diarahkan untuk mendorong pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus membuka peluang pengembangan usaha berbasis sumber daya lokal.
Gagasan tersebut memiliki arti penting bagi wilayah yang memiliki potensi kehutanan dan perkebunan besar. Apabila didukung teknologi yang tepat, pendampingan, dan model usaha yang berkelanjutan, limbah yang sebelumnya kurang termanfaatkan berpeluang menjadi sumber pendapatan masyarakat.
Di sinilah penelitian perguruan tinggi dapat mengambil peran lebih luas: bukan hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga membantu menjawab persoalan ekonomi dan lingkungan di tingkat lokal.
Perjalanan Rudianto dalam dunia ilmu pengetahuan berawal dari Universitas Mulawarman. Ia meraih gelar Sarjana Kehutanan pada 1996 dan menyelesaikan pendidikan magister bidang Teknologi Hasil Hutan pada 2000.
Ia kemudian melanjutkan studi doktoral di Kyoto University, Jepang, dan meraih gelar doktor pada 2005. Penelitiannya berfokus pada mekanisme degradasi lignin oleh jamur pelapuk putih, biosintesis asam seriporat, serta perlakuan kayu untuk mendukung produksi energi terbarukan melalui fermentasi metana.
Pengalaman akademiknya berlanjut di Jepang. Pada 2006–2008, ia menjalani penugasan sebagai peneliti tamu atau pascadoktoral di Laboratory of Biomass Conversion, Research Institute for Sustainable Humanosphere, Kyoto University.
Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan lingkungan penelitian internasional yang mendalami konversi biomassa dan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.
Bekal keilmuan itu kemudian menjadi salah satu fondasi perjalanan kariernya di Universitas Mulawarman. Ia tidak hanya mengembangkan penelitian, tetapi juga membangun pengalaman dalam pengelolaan pendidikan tinggi dan kerja sama lintas negara.
Sebelum dipercaya menjadi rektor, Rudianto telah menempati sejumlah posisi strategis di Universitas Mulawarman.
Ia pernah memimpin Program Unggulan Internasional Unmul pada 2012–2015, menjabat Direktur Kantor Urusan Internasional pada 2015–2016, dan menjadi Dekan Fakultas Kehutanan selama dua periode, yakni 2016–2020 dan 2020–2024.
Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk terlibat dalam pengembangan akademik, penguatan kelembagaan, serta perluasan kolaborasi internasional.
Jejaring kerja sama yang diinisiasinya mencakup berbagai perguruan tinggi, antara lain Kyoto University, Mie University, Kyoto Prefectural University, Korea University, Chulalongkorn University, Universiti Putra Malaysia, Leiden University, TU Delft, dan Erasmus University Rotterdam.












Discussion about this post