Kolaborasi tersebut membuka ruang bagi pengembangan penelitian bersama dan pertukaran mahasiswa, sekaligus memperluas kesempatan sivitas akademika untuk terlibat dalam ekosistem pendidikan tinggi global.
Di luar kampus, Rudianto juga pernah terlibat dalam tim pakar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk pengembangan kebijakan multiusaha kehutanan nasional pada 2020–2023.
Ia turut menjadi anggota delegasi Indonesia dalam konferensi iklim PBB COP25 di Madrid pada 2019 dan COP27 di Sharm el-Sheikh pada 2022, serta dalam Indonesia–Japan Forestry Investment Dialogue di Tokyo pada 2022.
Pengalaman tersebut mempertemukan perspektif akademik dengan isu kebijakan kehutanan, investasi, dan perubahan iklim di tingkat internasional.
Terpilih sebagai rektor melalui pemungutan suara Rapat Senat Tertutup pada 30 September 2026, Rudianto mengusung visi menjadikan Universitas Mulawarman sebagai universitas unggul, mandiri, bermartabat, dan berdaya saing nasional maupun internasional, dengan bertumpu pada kekuatan hutan dan lingkungan tropis lembap Kalimantan.
Untuk mewujudkan visi tersebut, ia merumuskan delapan agenda strategis yang mencakup pembenahan tata kelola, peningkatan kesejahteraan sivitas akademika, kemandirian finansial, penguatan riset, pengembangan kajian strategis Ibu Kota Nusantara (IKN), kesuksesan mahasiswa, pengabdian kepada masyarakat, serta pembangunan kampus berkelanjutan.
Agenda tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan universitas tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pada kemampuan institusi merespons perubahan dan kebutuhan masyarakat.
Penguatan riset unggulan hutan tropis, misalnya, dapat menjadi ruang bagi pengembangan inovasi yang sesuai dengan karakteristik Kalimantan. Sementara itu, pengembangan kemitraan transisi energi hijau dan pusat kajian IKN berpotensi memperluas peran Unmul dalam mendukung pembangunan kawasan.
Di sisi lain, peningkatan kesejahteraan mahasiswa, penguatan karier lulusan, digitalisasi tata kelola, dan diversifikasi sumber pendapatan menjadi bagian penting dalam membangun universitas yang tangguh.
Tantangan kepemimpinan Rudianto adalah memastikan seluruh agenda tersebut diterjemahkan menjadi program yang terukur, memiliki kesinambungan, dan menghasilkan perubahan nyata.
Sepanjang kariernya, Rudianto menerima sejumlah penghargaan, antara lain Juara I Nasional Lomba Sang Penemu yang diselenggarakan LPP TVRI Jakarta pada 2011, Dosen Berprestasi Tingkat Provinsi Kalimantan Timur pada 2016, serta Peneliti Terbaik Universitas Mulawarman pada tahun yang sama.
Ia juga masuk nominasi Penghargaan Energi Prakarsa Nasional dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada 2016.
Pada 2019, ia menerima Satyalancana Karya Satya XX Tahun dari Presiden Republik Indonesia. Penghargaan lainnya adalah Dosen Berprestasi Bidang Energi Terbarukan Universitas Mulawarman pada 2024.
Rangkaian penghargaan tersebut menjadi bagian dari rekam jejaknya dalam bidang penelitian, pendidikan, dan pengembangan teknologi. Bagi Universitas Mulawarman, kepemimpinan Rudianto berlangsung pada masa ketika hubungan antara pendidikan tinggi, inovasi, lingkungan, dan pembangunan semakin penting.
Kalimantan memiliki sumber daya alam yang besar, tetapi tantangannya bukan hanya bagaimana memanfaatkannya. Pengembangan teknologi yang bertanggung jawab, perlindungan ekosistem, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan penciptaan nilai tambah di daerah juga menjadi bagian dari pekerjaan besar tersebut.
Dengan latar belakang penelitian biomassa dan pengalaman membangun kerja sama internasional, Rudianto memiliki bidang keilmuan yang beririsan langsung dengan tantangan itu.
Namun, ukuran keberhasilan kepemimpinannya kelak tidak hanya terletak pada banyaknya penelitian atau luasnya jaringan kerja sama. Dampak riset terhadap masyarakat, peningkatan kualitas lulusan, penguatan tata kelola, dan kemajuan institusi juga akan menjadi bagian penting dari perjalanan empat tahun kepemimpinannya.
Dari Pemangkat, Kalimantan Barat, hingga Samarinda, Kalimantan Timur, perjalanan Rudianto memperlihatkan bagaimana pendidikan dan penelitian dapat menjadi jalan pengabdian lintas daerah dan negara.
Kini, sebagai Rektor Universitas Mulawarman, ia menghadapi tantangan untuk menghubungkan keunggulan akademik dengan kebutuhan nyata Kalimantan.
Masa depan Unmul bukan hanya tentang menjadi universitas yang diperhitungkan di tingkat nasional dan internasional, melainkan juga tentang seberapa besar ilmu pengetahuan yang tumbuh di kampus mampu memberi manfaat bagi lingkungan, masyarakat, dan pembangunan bangsa. **












Discussion about this post