Satu-satunya harapan Indonesia untuk meraih gelar juara pertama di Polytron Pontianak Indonesa Masters 2026 Super 100 tertuju pada pasangan ganda putra Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan dan Patra Harapan Rindorindo. Sayangnya dalam aksi laga yang sengit, pasangan bulutangkis ini dihadang oleh pemain Chinese, Taipei Chia Yen Lin dan Lin Yong Sheng. Duel sengit itu, membuat tim Indonesia di posisi runner up.
Malam final turnamen Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026 Super 100 yang dihelat di GOR Terpadu Pontianak, Kalimantan Barat pada Minggu malam September 2026 menjadi laga penutup gelaran akbar bulutangkis, yang diawali dengan Polytron Pontianak Indonesia Challenge pada 25- 31 Agustus 2026, lanjut Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026 Super 100 pada 1 – 6 September 2026.
Para jawara bulutangkis yang masuk final pada Indonesia Masters didominasi oleh pemain Chinese Taipei, hanya satu tim Indonesia yang sukses masuk di babak akhir perebutan gelar juara ini.

Di ujung laga setelah empat pertandingan akhir, paling ditunggu penonton yang memenuhi stadion GOR Terpadu, gegap gempita atmosfir penonton menyambut pasangan ganda putra Yeremia dan Patra disusul lawan dari Taipei, Chia Yen Lin dan Lin Yong Sheng.
Duel langsung dimulai, aksi Yere dan Patra memantik semangat penonton, pasangan ini langsung memimpin dan unggul di gim pertama 21-11. Lanjut gim ke dua, perlawanan Chia Yen dan Lin Yong tidak bisa dianggap enteng.
Pukulan-pukulan tajamnya, cukup membuat Yere dan Patra kewalahan dan terpaksa terhenti di angka 19-21, selisih dua angka untuk kemenangan pemain Taipei.
Begitu pula di gim ke tiga, duel berlangsung cepat, saling kejar poin. Sayangnya Yere dan Patra kalah cepat, hingga tertinggal dua poin. Kemenangan berhasil direngkuh pemain Taipei. Tim Merah Putih di posisi runner up.
“Puji Tuhan, kami bisa menyelesaikan pertandingan ini. Walaupun hasilnya runner up, tapi kami dijauhkan dari cedera,” ucap Patra usai menerima hadiah.
Ia mengakui, permainannya kurang tenang dan fokusnya hilang-hilang. Sempat memaksakan setting di gim ke tiga yang harusnya bisa ambil kesempatan, namun kecolongan oleh servis lawan. Sangat disayangkan.
Yeremia juga menyebut, bahwa permainan mereka bersama lawan begitu memaksa, semuanya mau menekan dan jarang mengangkat bola. Kalaupun ada yang terpaksa angkat bola, pasti dia akan kehilangan poin. Itu yang membuat poin-poin dan momennya sangat intens, sangat ketat.
“Kami bangga dan senang banget mendapat dukungan full penonton di sini. Semua bangku terisi, sangat antusias. Kalau minggu kemarin, kami tampil di final melawan rekan senegara, tapi hari ini melawan negara lain, jadi semua arena terasa mendukung. Itu membuat kami bersemangat,” ujar Yeremia, sembari mengucap terima kasih atas atmosfir penonton yang begitu luar biasa.
Sedangkan sang pemenang, Lin Yong Sheng berkata, sangat senang bisa juara pertama. Ia mengakui kekalahannya di gim pertama, lantaran mainnya tidak tenang dan panik, akibat sorak sorai penonton.
“Pada gim pertama, kami memang sangat-sangat tegang, beruntung pelatih mengingatkan kami untuk bermain lepas. Akhirnya di gim terakhir saya tidak banyak berpikir lagi. Saya hanya melakukan spekulasi untuk flick service dan feeling-nya mereka tidak bisa mengembalikan. Kami beruntung bisa cepat membalikkan situasi dan berhasil,” ucap Chia Yen Lin.
Duel Sengit Sesama Pemain China
Sebelumnya duel sengit memperebutkan gelar juara pertama dilakukan para pemain China, pasangan ganda campuran Liao Li Xi dan Shen Shi Yao melawan Chou Yun An dan Ruo Hsuan Ko dari Chinese Taipei. Pertarungan kedua pasangan ini memukau penonton dengan aksi, gaya serta smash tajam masing-masing.










Discussion about this post