Tim gabungan bergerak menuju lokasi sejak pagi hari dan tiba sekitar pukul 07.00 WIB untuk melakukan proses evakuasi. Karena kebakaran hutan dan lahan yang masih terjadi di sekitar wilayah ini, tim disambut oleh kabut asap yang cukup pekat.

Untuk meminimalisir risiko terhadap tim penyelamat maupun satwa, tim menggunakan senapan bius dengan dosis anestesi yang dihitung secara cermat oleh dokter hewan berdasarkan estimasi berat badan dan kondisi individu.
Tim penyelamat ini memiliki pengalaman yang sangat mendalam serta menjalankan setiap tindakan dengan penuh kesabaran, ketelitian, dan selalu mengutamakan prosedur keselamatan.
Karena pergerakan orangutan tersebut cukup lincah dan selalu berpindah-pindah, tim membutuhkan waktu 8 jam untuk menyelesaikan proses pembiusan terhadap ketiga orangutan ini. Setelah berhasil dilakukan anestesi, orangutan menjalani pemeriksaan medis secara menyeluruh. Tim medis juga serta memberikan cairan infus untuk memastikan kondisi fisiknya baik dan sehat.
Setelah proses pemeriksaan selesai dan kondisinya dinyatakan memungkinkan untuk dipindahkan, orangutan kemudian dievakuasi dari kebun warga menuju lokasi pelepasliaran di kawasan TANAGUPA.
Perjalanan ke lokasi translokasi ini cukup panjang, membutuhkan sekitar 5 jam dengan kombinasi transportasi darat dan air. Kawasan TANAGUPA dipilih berdasarkan hasil asesmen sebagai lokasi yang lebih aman dan memiliki habitat yang sesuai untuk mendukung kehidupan orangutan di alam liar.
Setibanya di kawasan taman nasional proses pelepasliaran dilakukan dengan dukungan personel dari TANAGUPA dan masyarakat setempat yang turut membantu membawa orangutan menuju bagian hutan yang lebih jauh dari akses masyarakat.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, Prawono Meruanto, S.P., M.Si., berkata, kami menyambut baik sinergi dan kolaborasi seluruh pihak dalam upaya translokasi ini. Kawasan Taman Nasional Gunung Palung merupakan habitat alami yang aman untuk mendukung kelangsungan hidup orangutan.
Pasca-pelepasliaran, tim kami di lapangan akan terus memantau pergerakan dan proses adaptasi Mama Yuni, Yuni dan Pura guna memastikan mereka dapat bertahan hidup dengan baik di rumah barunya. Kami berharap kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus menjaga kelestarian hutan dari ancaman karhutla demi menyelamatkan satwa endemik kebanggaan kita,”imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, S.Hut., M.Si. menekankan perlunya komitmen semua pihak untuk menjaga keutuhan kawasan hutan dan wilayah lain yg bernilai konservasi tinggi dengan mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan sehingga dapat mendukung kehidupan manusia dan satwa liar. **









Discussion about this post