BPS mencatat, inflasi secara tahunan (yoy) lantaran adanya kenaikan harga oleh sebelas indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 3,94 persen, pakaian dan alas kaki 0,67 persen.
Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 2,24 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 2,25 persen, kesehatan 0,93 persen.
Kelompok transportasi 4,99 persen, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan 1,19 persen, rekreasi, olahraga dan budaya 1,42 persen.
Kelompok pendidikan 1,93 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 1,86 persen dan kelompok perawatan pribadi serta jasa lainnya sebesar 5,60 persen.
“Penyumbang utama inflasi secara bulanan (mtm) adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil 0,32 persen. Sedangkan komoditas penyumbang utama inflasi adalah ikan tongkol, daging ayam ras, minyak goreng, ketimun dan ikan kembung,” kata Sri Suyatmi.
Di tingkat nasional dengan angka inflasi tahunan (yoy)Â sebesar 2,88 persen, Indonesia mencatat deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan atau mtm pada Juli 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono berkata, bahwa tekanan inflasi pada bulan Juli 2026 semakin melandai jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
“Penurunan tekanan ini terutama disebabkan oleh beberapa komoditas. Pertama emas dan perhiasan. Di bulan Juni turun dari 37,23 persen menjadi 32,13 persen pada Juli 2026,” ujarnya. **












Discussion about this post