Hasil SUPAS 2025 juga mencatat, banyaknya kematian bayi berusia di bawah satu tahun atau Infant Mortality Rate/IMR (IMR) di Kalimantan Barat terdata sebanyak 14,83 kematian bayi. Angka ini menurun hampir setengahnya dibandingkan hasil SP2010 yang sebanyak 27 kematian.
Hasil SUPAS 2025 juga menunjukkan disparitas IMR antarkabupen/kota. Kota Pontianak mencatatkan IMR terendah, yakni sebesar 11,74, sementara Kabupaten Kayong Utara masih memiliki IMR tertinggi, mencapai angka 17,83.
Hasil SUPAS 2025 juga melaporkan penyandang disabilitas, yakni individu yang mengalami banyak kesulitan atau gangguan/keterbatasan atau sama sekali tidak dapat beraktivitas. Prevalensi penduduk penyandang disabilitas umur 5 tahun ke atas di Kalimantan Barat mencapai angka 2,25 persen.
Penyandang disabilitas ini, menurut SUPAS 2025 terbagi menjadi delapan jenis, yakni kesulitan melihat, kesulitan mendengar, kesulitan berjalan/naik tangga, kesulitan menggunakan/menggerakkan tangan/jari, kesulitan mengingat/konsentrasi, kesulitan gangguan perilaku/emosional, kesulitan berkomunikasi dan kesulitan mengurus diri sendiri.
Persentase penduduk penyandang disabilitas tertinggi menurut SUPAS 2025 adalah pada kesulitan berjalan/naik tangga, yang mencapai 0,88 persen dan penyandang disabilitas terendah adalah kesulitan gangguan perilaku/emosional sebesar 0,28 persen.
Migrasi
Mobilitas penduduk antar wilayah, terlapor cukup tinggi dan memiliki pola bervariasi. Menurut SUPAS 2025, wilayah perkotaan seperti Pontianak, Singkawang dan Kubu Raya mencatat persentase migran masuk yang relatif tinggi. Masing-masing sebesar 23,21 persen, 22,77 persen dan 20,56 persen.
“Tingginya angka mingran masuk ke kota Pontianak, Singkawang dan Kubu Raya menunjukkan, bahwa daerah-daerah tersebut menjadi pusat daya tarik ekonomi dan sosial bagi penduduk,” kata Saichudin.
Pontianak dan Singkawang juga menunjukkan angka migran ke luar yang tinggi, yaitu sebesar 23,70 persen dan 21,95 persen, sehingga mencerminkan dinamika mobilitas yang intens dan tidak hanya berperan sebagai daerah tujuan, tapi juga daerah asal migrasi.
Di sisi lain, beberapa wilayah seperti Bengkayang, Sintang, Melawi, Kayong Utara dan Kubu Raya memiliki kecenderungan surplus migrasi, karena persentase migran masuk lebih besar dibandingkan migran ke luar. Daerah-daerah ini, menjadi daya tarik bagi penduduk untuk menetap.
Sebaliknya, daerah seperti Sambas dan Landak malah mengalami defisit migran, lantaran angka migran ke luar lebih tinggi dibandingkan migran masuk. Faktor pendorong migrasi ke luar daerah, antara lain disebabkan keterbatasan kesempatan kerja atau fasilitas.
“Pola tersebut menggambarkan pergerakan penduduk di Kalimantan Barat cenderung terfokus menuju wilayah dengan aktivitas ekonomi yang lebih berkembang, sekaligus menunjukkan adanya ketimpangan daya tarik antar daerah,” ujar Saichudin.
Ia menilai, secara umum beberapa daerah menunjukkan neto migrasi positif. Artinya, jumlah migram masuk lebih besar dibandingkan migran ke luar, seperti Kayong Utara (2,39), Sambas (1,72), Bengkayang (1,59) dan Singkawang (1,23). Daerah-daerah tersebut dinilai punya daya tarik cukup kuat dalam beberapa tahun terakhir, baik dari sisi peluang ekonomi, ketersediaan lahan, maupun faktor sosial lainnya.
Begitu pula dengan penggunaan bahasa Indonesia. Dengan ragam bahasa daerah di Kalimantan Barat, ternyata Generasi Pre Boomer memiliki kemampuan berbahasa Indonesia paling rendah, yaitu 80,88 persen. Sementara Gen Z dan Gen Milenial menjadi pengguna Bahasa Indonesia tertinggi, yaitu 99,80 persen.
Sebaliknya, penggunaan bahasa daerah  terendah di lingkungan keluarga atau masyarakat, lebih banyak dilakukan oleh Post Gen Z sebesar 68,29 persen dan persentase tertinggi adalah Generasi X dengan angka 81,16 persen.**














Discussion about this post