Di balik gemuruh mesin dan riuhnya aktivitas para pekerja di perbatasan, sebuah jembatan tidak sekadar dibangun dengan beton dan baja. Di wilayah Ketungau hulu, Kalimantan Barat, pembangunan jembatan ini dimulai dengan langkah yang khidmat.
Sebelum alat berat pertama menyentuh tanah, sebuah ritual adat Mudas telah selesai dilaksanakan dengan penuh kesakralan. Tradisi turun-temurun ini digelar bukan sekadar formalitas, melainkan sebagai bentuk permohonan doa kepada Sang Pencipta dan penghormatan kepada para leluhur.
​Melalui ritual ini, seluruh elemen masyarakat memohon agar para pekerja yang berjuang di lapangan senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, dan perlindungan, sehingga rehabilitasi Jembatan Ketungau 1 dapat tuntas tanpa hambatan suatu apa pun.

Cepatnya respons terhadap aspirasi masyarakat mendapat perhatian dan apresiasi yang tinggi dari berbagai pihak. Camat perbatasan, Ramdi Nahum, S.T., M.T., menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada pihak pelaksana dan BPJN (Balai Pelaksanaan Jalan Nasional) Kalimantan Barat. Sinergi yang cepat dan tanggap ini membuktikan bahwa suara masyarakat di wilayah terluar didengarkan dengan baik.
​Rehabilitasi jembatan ini membawa harapan besar bagi masyarakat di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Infrastruktur yang mantap adalah urat nadi utama untuk memutar roda ekonomi masyarakat yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Dengan akses yang lancar, distribusi barang dan mobilitas warga akan jauh lebih mudah, sehingga kesejahteraan dapat perlahan meningkat.

















Discussion about this post