Dia bilang, antusiasme penonton yang tinggi juga menjadi modal bagi Pontianak untuk semakin diperhitungkan sebagai salah satu kota penyelenggara turnamen bulutangkis berskala nasional maupun internasional.
Bagi Liliyana, pengalaman bertanding menghadapi lawan dari berbagai negara menjadi bagian penting dalam perkembangan seorang pemain. Setiap pertandingan memberikan pelajaran baru, baik dari sisi teknik maupun mental bertanding.
“Bagi saya, melawan negara lain juga saya suka, karena dari situ kita bisa melatih diri mendapatkan pengalaman dan belajar menghadapi berbagai karakter permainan,” ujarnya.
Lilyana Natsir yang akrab disapa Butet ini, merupakan mantan atlet bulutangkis kebanggaan Indonesia spesialis nomor ganda campuran dan ganda putri. Prestasi gemilang yang sukses diraih di antaranya, Medali Emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Dalam laga ini, ia tampil sebagai juara ganda campuran bersama partnernya Tontowi Ahmad. Sebelumnya, di 2008 Liliyana bersama Nova Widianto dalam penampilan ganda putri berhasil meraih posisi ke dua Medali Perak Olimpiade Beijing.
Di kelas juara dunia, Lilyana alias Butet, juga sukses meraih gelar juara dunia tiga kali di nomor ganda campuran pada 2005 dan 2007 bersama Nova Widianto serta bersama Tontowi Ahmad di ganda campuran pada 2013. Ia pun resmi dinobatkan BWF Hall of Fame sebagai legenda bulutangkis dunia pada 2022.
Pertandingan terakhir Liliyana dilakukan pada babak final ganda campuran Indonesia Masters 2019 di Istora Senayan, Jakarta, berpasangan dengan Tontowi Ahmad.
Setelah berkarier profesional selama 24 tahun di dunia bulutangkis, kini Liliyana menikmati masa pensiun dan memilih menggantung raket. “Saya bangga menjadi atlet bulutangkis. Dunia ini yang membesarkan nama saya, dunia ini yang membuat saya bisa memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara,” ucapnya. **









Discussion about this post