Ia mengungkapkan, cara paling sederhana dalam menjaga Rupiah adalah dengan konsumsi produk domestik dan mengelola transaksi secara lebih bijak, dan memanfaatkan metode pembayaran yang lebih efisien, yang tidak memberi tekanan tambahan pada sistem keuangan.
Menurutnya, pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat tidak bisa hanya dijawab dengan kebijakan moneter semata. Namun diperlukan peran publik untuk ikut menjaga stabilitas Rupiah melalui perilaku ekonomi sehari-hari. Terpenting lagi adalah, bagaimana publik mengelola informasi. Karena di tengah derasnya arus informasi, tidak semua utuh dipahami konteksnya oleh masyarakat.
“Di sinilah peran media dan akademisi untuk menjembatani pemahaman publik terhadap kebijakan yang terlihat teknis, namun memiliki latar belakang pertimbangan kompleks. Ini yang perlu dikomunikasikan dengan baik, agar tidak menimbulkan persepsi keliru,” kata Donanto.
Ia menegaskan, pentingnya peran media dan akademisi dalam memperkuat pemahaman publik, terutama terhadap kondisi ekonomi nasional yang dinamis. Diharapkan, komunikasi publik antara otoritas, media dan kalangan akademik semakin diperkuat, agar tidak terjadi kesenjangan perspektif. Dan kebijakan yang diambil akan berdampak lebih positif bagi masyarakat, karena dipahami secara utuh.
Menurut Donanto, tantangan utama saat ini adalah bagaimana menyampaikan informasi ekonomi kepada masyarakat secara jelas dan komprehensif, agar tidak menimbulkan persepsi keliru di tengah dinamika global.
Untuk itu, kolaborasi antara media dan akademisi menjadi sangat penting guna menghasilkan komunikasi yang efektif, yang mampu menjangkau masyarakat luas dengan baik.
“Media memiliki peran besar dalam menjaga stabilitas melalui penyampaian informasi yang akurat dan berimbang, sehingga dapat mendukung terciptanya iklim investasi yang kondusif,” imbuhnya. **















Discussion about this post