“Stabilitas nilai tukar Rupiah dengan intervensi di pasar luar negeri dan domestik, diharapkan nilai Rupiah tetap terkendali dan akan terus dijaga stabil ke depan,”ujar Doni.
BI juga melakukan ekspansi likuiditas moneter dengan penurunan SRBI atau surat berharga sebesar Rp 192,64 triliun dari Rp 923,53 triliun pada 31 Desember 2024 menjadi Rp 730,90 triliun per Desember 2025 dan turun lanjut menjadi sebesar Rp 694,04 triliun per 20 Januari 2026. Suku bunga deposit facility Bank Indonesia menjadi 3,75 persen agar bank menyalurkan kredit ke sektor riil.
Doni menyebut, penurunan SBN dari pasar sekunder sesuai kebijakan moneter ekspansif. Selama tahun 2025, BI telah membeli Rp 332,1 triliun SBN pemerintah dan Rp 23,69 triliun (ytd) pada 2026. Sebagian SBN untuk pendanaan program ekonomi kerakyatan dalam Asta Cita, seperti perumahan rakyat dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Sementara kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) sebesar Rp 388,1 triliun (hingga akhir Desember 2025) dan Rp 397,9 triliun (hingga minggu pertama Januari 2026) kepada perbankan untuk kredit/pembiayaan ke sektor prioritas pemerintah dalam Asta Cita. Termasuk hilirisasi, pertanian, perumahan, UMKM dan ekonomi inklusif.
Dalam akselerasi sistem pembayaran digital dalam penyaluran bantuan sosial dan elektronifikasi keuangan pemerintah daerah, QRIS meluas untuk kedaulatan NKRI. Kerjasama QRIS antarnegara juga diperluas dengan Jepang, Tiongkok, Korea Selatan dan India.
BI melihat prospek 2026, bahwa kredit pada tahun ini masih di bawah optimalnya, sementara corporate secara bertahap mulai meningkatkan ekspansi, khususnya pada SK terkait dengan program pemerintah, namun preferensi penggunaan dana internal masih dinilai tinggi.
Sementara program prioritas pemerintah dan kebijakan subsidi dapat menopang demand RT (Rumah Tangga) dan UMKM di tengah daya beli masyarakat yang masih lemah. SSK (Stabilitas Sistem Keuangan) tetap terjaga didukung permodalan yang tinggi, likuiditas yang ample dan risiko kredit yang terjaga di bawah 5 persen.
“Outlook kredit pada 2026 akan berada pada kisaran 8 persen sampai 12 persen, sementara pada 2027 naik di kisaran 9 persen hingga 13 persen,” ucap Doni. **
Pewarta/Editor : Yulis. S










Discussion about this post