Bank Indonesia (BI) terus memperkuat bauran kebijakan guna menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di tengah ketidakpastian global yang meningkat, bersinergi erat dengan KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) dan program Asta Cita Pemerintah.
“Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 diprakirakan sedikit lebih rendah menjadi sebesar 3,2 persen dibandingkan dengan capaian pada 2025 sebesar 3,3 persen,”kata Kepala Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Barat, Doni Septadijaya saat coffee morning bincang media bersama sejumlah jurnalis di Cafe Pokha (Pojok Khatulistiwa) Pontianak, Selasa 10 Februari 2026.
Doni memaparkan, pertumbuhan ekonomi dunia yang lebih rendah, terutama dipengaruhi oleh dampak lanjutan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) dan kerentanan rantai pasok global, meskipun prospek perekonomian AS membaik didorong investasi sektor teknologi, termasuk artificial intelligence (AI) dan stimulus fiskal pengurangan pajak.
“Pertumbuhan ekonomi Jepang, Tiongkok dan India pada 2026 diprakirakan juga melambat akibat pelemahan permintaan domestik dan ekspor di tengah investasi AI yang juga meningkat,” ujarnya.
Sementara Indeks mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju (DXY) menguat di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global, yang mengakibatkan tertahannya peningkatan aliran modal ke emerging market (EM).
Menurut Doni, kondisi ini memerlukan kewaspadaan dan penguatan respon kebijakan untuk memperkuat daya tahan ekonomi domestik dari rambatan global, serta mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi di tengah investasi AI yang juga meningkat.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat dan mampu menjaga momentum pertumbuhan ke depan. Pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2025 diprakirakan lebih tinggi ditopang oleh kenaikan permintaan domestik selaras dengan membaiknya keyakinan pelaku ekonomi, yang didukung oleh stimulus dari kebijakan fiskal dan moneter.
Kebijakan moneter pada triwulan IV-2025 dan Januari 2026 ditempuh dengan mempertahankan suku bunga BI-Rate, memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dan memperkuat strategi operasi moneter pro-market guna mendukung stabilisasi nilai tukar Rupiah, penurunan suku bunga dan ekspansi likuiditas moneter dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
“BI terus memperkuat implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan perbankan. Pengembangan sistem pembayaran digital ini, terus diakselerasi dalam mendorong ekonomi keuangan digital dan elektronifikasi keuangan pemerintah,”kata Doni.
Bauran kebijakan BI dalam mendukung Asta Cita dengan mendorong pertumbuhan berkelanjutan, menjaga stabilitas, penurunan suku bunga BI-Rate yang telah dilakukan sebanyak 6 kali sebesar 150 bps menjadi 4,75 persen terendah sejak 2022. Yield SBN (10 tahun) turun dari 6,98 persen menjadi 6,31 persen (20 Januari 2026) sehingga mengurangi beban fiskal dan masih terbuka ruang penurunan suku bunga ke depan.










Discussion about this post