Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Barat, Doni Septadijaya memaparkan kondisi perekonomian dunia dan domestik serta prospek pertumbuhan ekonomi tahun 2026.
“Kinerja ekonomi di Kalimantan Barat secara kumulatif hingga triwulan IV-2025 (yoy) bertumbuh positif yaitu sebesar 5,30 persen, mengalami percepatan dibandingkan pencapaian secara kumulatif hingga triwulan III-2024 (ctc) yang sebesar 4,87 persen,” kata Doni di hadapan sejumlah jurnalis berbagai media dalam coffee morning bincang media, di Cafe Pokha (Pojok Khatulistiwa) Pontianak, Selasa 10 Februari 2026..
Kondisi ekonomi Kalimantan Barat terbilang lebih baik, jika dibandingkan dengan wilayah lain di Kalimantan. Menurut data BI Kalbar, perkembangan inflasi spasial di Kalimantan capaian terendah terjadi di Kalimantan Barat. Pada posisi Desember 2025 secara tahunan (yoy) Kalimantan Barat mencatatkan angka inflasi sebesar 1,85 persen, berikutnya pada Januari 2026 inflasi daerah ini berada di angka 3,33 persen.
Sementara di Kalimantan Utara inflasi Desember 2025 sebesar 2,57 persen dan pada Januari 2026 sebesar 4,08 persen. Kalimantan Timur 2,68 persen pada Desember 2025 dan 3,76 persen pada Januari 2026. Kalimantan Tengah terjadi inflasi 3,13 persen pada Desember 2025 dan 4,09 persen pada Januari 2026. Di Kalimantan Selatan angka inflasi terlihat cukup tinggi, yakni sebesar 3,66 persen pada Desember 2025 dan bergerak naik pada Januari 2026 sebesar 4,66 persen.
Sedangkan secara bulanan (mtm), pergerakan inflasi di Kalimantan Barat juga cukup rendah jika dibandingkan dengan wilayah lain, yakni sebesar 0,28 persen pada Desember 2025 dan lebih rendah pada Januari 2026 yaitu sebesar 0,27 persen.
Kalimantan Utara terjadi inflasi pada Desember 2025 sebesar 0,54 persen dan 0,10 persen pada Januari 2026. Kalimantan Timur 0,71 persen pada Desember 2025 dan 0,04 persen pada Januari 2026. Kalimantan Selatan 0,76 persen pada Desember 2025 dan 0,20 persen pada Januari 2026. Inflasi tertinggi tercatat terjadi di Kalimantan Tengah dengan angka 1,04 persen pada Desember 2025 dan menurun 0,38 persen pada Januari 2026.
Perkembangan stabilitas sistem keuangan Kalimantan Barat terjadi peningkatan. Pertumbuhan DPK (Dana Pihak Ketiga) secara tahunan (yoy) terkerek sebesar 8,56 persen dengan nilai Rp 88,20 triliun. Tabungan perbankan bertumbuh tinggi, yakni di angka 9,36 persen dengan nilai sebesar Rp 52,63 triliun, sementara deposito bertumbuh 2,72 persen senilai Rp 21,55 triliun dan Giro bertumbuh 15,25 persen dengan nilai Rp 13,99 triliun.
Secara tahunan (yoy) kredit di Kalbar juga bergerak positif di angka 6,82 persen dengan nilai sebesar Rp 105,86 triliun, terdiri dari investasi mencatat angka tinggi sebesar 16,12 persen senilai Rp 41,86 triliun, disusul kredit konsumsi 5,79 persen dengan nilai Rp 38,40 triliun. Sedangkan modal kerja malah minus di angka -4,30 persen dengan angka Rp 25,60 triliun.
BI Kalbar mencatat, Implementasi key initiatives (inisiatif utama) Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025 pada program elektronifikasi yang digerakkan oleh Bank Indonesia capaiannya menggembirakan. Untuk elektronifikasi pendapatan dan belanja negara dengan menggunakan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standar) BI Fast capaiannya 100 persen, sementara skor Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) 89,8 persen digital.
“Alhamdulillah masyarakat sudah semakin banyak menggunakan BI-Fast untuk melakukan transaksi digital,”ujar Doni Septadijaya sembari mengucapkan terima kasih.
Transaksi digital menggunakan QRIS yang kini semakin disukai masyarakat, BI Kalbar mencatat angka capaian sebanyak 771 pengguna (user QRIS) dengan volume transaksi sebesar 64,9 juta. Sedangkan volume transaksi BI- Fast mencapai angka 4,98 juta dan nilai transaksi BI-RTGS (Bank Indonesia Real Time Gross Settlement) sebanyak Rp 24 triliun.
Khusus perkembangan perbankan syariah di Kalbar, secara tahunan (yoy) bertumbuh 5,51 persen untuk DPK Syariah, dengan nilai Rp 5,92 triliun dan pembiayaan syariah 5,89 persen senilai Rp 11,30 triliun.
Pada kesempatan bincang bersama media, Doni Septadijaya juga memaparkan akselerasi digitalisasi sistem pembayaran nontunai di Kalimantan Barat.









Discussion about this post