Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI kembali menyelamatkan empat orangutan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Keempat orangutan tersebut terdiri atas dua individu remaja betina bernama Lusi dan Riri, yang diselamatkan dari area HCV PT KALE, perusahaan perkebunan kelapa sawit di Desa Laman Satong.
Penyelamatan itu masing-masing dilakukan pada 16 Oktober dan 10 Oktober 2026, serta sepasang induk dan anak bernama Mama Rian dan Rian yang diselamatkan pada 10 Oktober 2026 dari kebun warga di Desa Riam Berasap, tidak jauh area perkebunan kelapa sawit PT KALE.
Kedua orangutan remaja ini, yang berusia antara 4-6 tahun yang diselamatkan dari area PT KALE tanpa ada tanda tanda keberadaan induknya. Lusi ditemukan dalam kondisi yang sangat miris di satu pohon yang masih berdiri di antara hutan yang sudah musnah menjadi abu.
“Orangutan Lusi terlihat sangat stres dan sangat kurus. Mungkin sudah beberapa hari tidak dapat makanan apapun di hutan yang sudah hancur ini” ujar CEO YIARI sekaligus dokter hewan satwa liar, Dr. Karmele Llano Sanchez yang turun langsung ke lapangan.
Sedangkan Riri ditemukan di pohon sawit, terlihat dehidrasi dan ketakutan. “Kami merasa kasihan melihat anak orangutan sendirian tanpa induknya. Kami pun bertanya-tanya, ke mana induknya, sebab, induk orangutan biasanya tidak meninggalkan anaknya, sehingga kami sangat khawatir induknya mungkin sudah mati,” kata Dr Karmele.
Setelah dilakukan dievakuasi menggunakan obat bius, saat Lusi diperiksa oleh dokter hewan di lapangan, kondisinya sangat memprihantikan. Di sekujur badan ditemukan luka gores dan luka terbuka yang cukup dalam di bagian punggung, bibir dan anus. Kemungkinan besar luka ini disebabkan oleh gigitan satwa.
“Kami menduga luka-luka ini didapat dari gigitan hewan, kemungkinan anjing. Kondisi Lusi juga sangat kurus dan mengalami dehidrasi, kami sungguh sedih melihat kondisi orangutan ini, mungkin sudah lama tidak dapat makanan apapun,” jelasnya lagi.
Selain Lusi dan Riri, tim juga menyelamatkan sepasang induk dan anak orangutan bernama Mama Rian dan Rian dari kebun warga di Desa Riam Berasap, sekitar 1,5 kilometer dari perkebunan kelapa sawit PT KALE.
Lokasi penyelamatan tersebut berada di tengah kawasan yang telah terbakar. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, tubuh Mama Rian dan Rian juga yang sangat kurus.
Empat orangutan ini hanya sebagian kecil dari rentetan panjang penyelamatan orangutan terdampak karhutla. Sejak 6 Agustus sampai 10 Oktober 2026, tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI telah mengevakuasi 51 orangutan dari sejumlah lokasi di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara (KKU), Kalimantan Barat, seiring dengan meluasnya dampak kebakaran terhadap habitat orangutan.
Lebih dari separuh orangutan yang telah dievakuasi, 30 individu, berasal dari dalam areal kebun sawit perusahan PT. KALE atau sekitarnya.
Di antara semua orangutan yang ditemukan di area PT KALE terdapat 10 induk anak (Mama Angelo dan Angelo, Mama Abu dan Abu, Mama Urlan dan Urlan, Mama Ocha dan Ocha, Mama Satya dan Satya, Mama Irene dan Irene, Mama Atri dan Atri, Mama Pia dan Pia, Mama Zole dan Zole, serta Mama Aldia dan Aldia), 5 orangutan remaja tanpa induknya (Sekuting, Mele, Mila, Tere, Lusi, Riri).
Serta 2 orangutan jantan yang sempat ditranslokasi ke area hutan terdekat, di area PT. MoPaKha (Viktor dan Wak) dan Sempurna, orangutan yang akhirnya mati akibat asap dari Karhutla yang ditemukan di desa Kuala Satong, sekitar 1-2 km dari konsesi PT.KALE.
Selain itu, ada juga sepasang induk anak bernama Rian dan Mama Rian yang diselamatkan dari Riam Berasap yang juga berjarak 1-2 km dari konsesi PT KALE.
Kondisi semua orangutan ini cukup memprihatinkan, karena habitatnya yang rusak, mulai dari dehidrasi, malnutrisi, dan luka bakar dan luka terbuka yang cukup parah pada bagian tubuh mereka.
Saat ini sebanyak 27 orangutan yang diselamatkan dari area perkebunan PT KALE dan sekitarnya, sedang mendapatkan perawatan lebih lanjut di pusat rehabilitasi YIARI, karena kondisi kesehatannya yang kurang baik.
Tim gabungan masih melakukan pemantauan terhadap beberapa individu orangutan yang masih berada di kawasan HCV ini. Berdasarkan laporan dari masyarakat, pemantauan juga dilakukan di dalam dan sekitar kebun sawit PT. KALE.
Beberapa di antaranya bahkan dilaporkan telah masuk area pemukiman masyarakat dan merusak tanaman dan kebun warga, sehingga berpotensi menimbulkan konflik antara manusia dan orangutan.









Discussion about this post