Kanwil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kalimantan Bagian Barat (Kalbagbar), mencatat penerimaan cukai hingga Agustus 2026 mencapai Rp 174,8 miliar. Sementara penerimaan cukai pada Agustus 2026 di angka Rp 33,8 miliar, bertumbuh positif sebesar 272,51 persen secara tahunan (yoy) dibandingkan Agustus tahun 2025.
“Secara kumulatif hingga Agustus 2026, pertumbuhan cukai mencapai 53,97 persen (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya,” jelas Kepala Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Barat (Kalbagbar), Budi Harjanto dalam konferensi pers APBN Kalimantan Barat edisi September 2026 secara daring, Kamis, 24 September 2026.
Ia mengungkapkan, penerimaan bea masuk di DJBC Kalbagbar sampai Agustus 2026 tercatat sebesar Rp 82 miliar atau 196,23 persen dari target tahun ini. Jika dibandingkan dengan Agustus tahun 2025 penerimaan bea masuk sebesar Rp 4,1 miliar, turun 19,69 persen (yoy). Namun secara kumulatif hingga Agustus 2026 bea masuk ini bertumbuh positif di angka 103,64 persen (yoy).
Menurut Budi, tingginya penerimaan bea masuk sampai Agustus 2026, selain karena importasi rutin komoditas caustic soda juga importasi barang modal pembangunan PSN (Proyek Strategis Nasional) smelter alumina di Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) Kayong Utara serta pembangunan smelter alumina di Sanggau.
“Surplus penerimaan bea masuk mencapai angka Rp 40,2 miliar dari target bea masuk 2026 sebesar Rp 41,8 miliar,” kata Budi.
Sementara penerimaan bea keluar yang tercatat hingga Agustus 2026 sebesar Rp 511 miliar, dengan persentase 170,32 persen dari target bea keluar 2026. Pertumbuhan penerimaan bea keluar pada Agustus 2026 sebesar Rp 133,2 miliar bertumbuh 226,3 persen (yoy) dibandingkan Agustus 2025.
Secara kumulatif hingga Agustus 2026, penerimaan bea keluar bertumbuh positif di angka 92,27 persen (yoy), volume ekspor produk turunan CPO tumbuh 89,4 persen (yoy) sebanyak 412 ribu ton dan surplus penerimaan bea keluar mencapai Rp 211 miliar dari target bea keluar 2026 yang sebesar Rp 300 miliar.
Budi mengungkapkan, tiga komoditas top bea keluar, yaitu CPO dan produk turunannya dengan penerimaan bea keluar Rp 451,1 miliar (90,4 persen) palm kernel expeller  Rp 24,4 miliar (4,9 persen) dan palm kernel Rp 23,3 miliar (4,7 persen).









Discussion about this post