Era digitalisasi saat ini membuat gerak semakin cepat, bisnis pun kian moncer, tanpa perlu pusing memikirkan cara laris jualan. Hanya dengan melapak di marketplace, selanjutnya jendela pasar pun terbuka. Dan hanya satu klik di jari, semua produk pesanan mengalir. Praktis, mudah, efisien dan menghasilkan cuan.
Inilah yang kini digencarkan pemerintah, agar UMKM naik kelas. Caranya dengan masuk dunia digital, melapak online, dari penjualan hingga transaksi. Jumlah total UMKM di Indonesia tahun ini, telah berada di angka 64 hingga 66 juta. Dari jumlah tersebut, sekira 30 hingga 40 persen atau berkisar 25 hingga 30 juta pelaku UMKM telah masuk ke dalam ekosistem digital.
Sebagian besar UMKM memanfaatkan platform lokapasar (marketplace) untuk memasarkan produknya. Pemerintah pun terus mendorong angka tersebut, agar naik hingga sebesar 35 sampai 40 juta pada 2026.

Di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), populasi UMKM menurut data Dinas Koperasi dan UKM Kalbar, tercatat sebanyak 338.258 pelaku UMKM. Bank Indonesia secara aktif melakukan kurasi dan pelatihan bagi pelaku UMKM, seperti program onboarding agar optimal menggunakan platform digital dan marketplace.
Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung baru pertumbuhan ekonomi, telah bertransformasi melalui digitalisasi dan menjadi wajah baru ekonomi Indonesia, dengan memperluas pasar secara global, mempermudah pembayaran lewat QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) dan meningkatkan efisiensi operasional.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, Doni Septadijaya mengungkapkan, akumulasi nilai transaksi QRIS hingga Juni 2026 di daerah ini mencapai angka Rp 6,5 triliun (112,04 persen) secara tahunan (yoy) dengan volume 62,9 juta transaksi (131,97 persen).
Jumlah merchant QRIS juga terus bertambah, capaiannya 552.673 merchant, naik sebesar 28,94 persen (yoy) didominasi usaha mikro sebanyak 74,17 persen. Sementara jumlah pengguna telah mencapai 875,4 ribu user, bertambah sebanyak 18,3 persen (yoy) atau sekira 24 persen penduduk dewasa.
Lebih dari 2.000 UMKM di Kalbar juga telah tercatat aktif sebagai penyedia barang/jasa melalui berbagai platform. Untuk platform terpopuler saat ini, Shopee menempati peringkat pertama, yang paling banyak digunakan oleh UMKM.
Halaman Shopee Pilih Lokal telah secara resmi diperkenalkan pada 2021. Di sini Shopee menampilkan dan mengkurasi produk terbaik dari brand-brand lokal.

Lewat kanal tersebut, platform yang paling digandrungi anak-anak muda ini, Shopee mencatatkan peningkatan penjualan produk lokal hingga 55 persen dan peningkatan pendapatan hingga 40 persen pada tahun 2025 melalui berbagai promo khusus produk lokal, didukung lagi dengan kehadiran berbagai jenis voucher Shopee senilai total Rp 165 miliar.
“Kami percaya, bahwa UMKM dan produk lokal memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Shopee terus berupaya menghadirkan berbagai inovasi, program dan fitur yang dapat membantu pelaku usaha mengembangkan bisnisnya secara berkelanjutan, baik di pasar lokal maupun global,” tutur Head of Corporate Affairs Shopee Indonesia, Satrya Pinandita.

Deputy Director of Government Relation Shopee Indonesia, Balques Manisang menyampaikan, sejak diluncurkan pada tahun 2019, program ekspor Shopee telah sukses memasarkan lebih dari 90 juta produk UMKM lokal ke berbagai negara di Asia Tenggara, Asia Timur hingga Amerika Latin.
Salah satu bukti sukses melapak di marketplace Shopee, adalah Gusti Iwan Darmawan yang populer dengan nama Kojal (Kopi Jago Jalanan). Selaras dengan namanya Kopi Jago Jalanan, Iwan memang dikenal sejak awal sebagai penyeduh kopi mumpuni yang dimulainya sejak tahun 2017, menggunakan gerobak kopi yang ditarik sepeda motor jadul.
Iwan alias Kojal memang peracik kopi sejati. Lewat tangan dinginnya, ia melahirkan kopi Liberika khas Kalimantan Barat, yang berasal dari Kabupaten Kayong Utara.
Perjuangannya menanam dan mengembangkan kopi Liberika tidaklah mudah. Kojal betul-betul memulainya dari nol, dari berbagai penelitian melalui sampel tanah dari satu daerah ke daerah lainnya di Kalimantan Barat, hingga akhirnya menemukan lokasi yang cocok dengan tanah yang mendukung di Kabupaten Kayong Utara.
Ia menggerakkan petani lokal yang mengembangkan kopi Liberika. Petani setempat memang telah lama bertanam kopi, mereka menyebutnya sebagai kopi kampung.
Iwan memberi “pencerahan” kepada petani-petani lokal tersebut, tentang kopi kampung yang sebenarnya adalah jenis Liberika dan paling disukai pasar global. Ia berhasil meyakinkan petani di daerah tersebut, yang kemudian bersemangat mengembangkan kopi Liberika.

Terbukti, dengan produksi yang banyak, kopi Liberika melalui brand Kojal kemudian masuk pasar, dari lokal hingga domestik. selanjutnya merambah global setelah menjadi binaan Bank Indonesia, yang kerap membawanya berpameran mempromosikan kopi Liberika Kalimantan Barat hingga ke luar negeri.
Terakhir pada bulan Mei 2026 UMKM Kopi Kojal ini, sukses menembus pasar internasional melalui ajang World of Coffee Bangkok 2026.
Partisipasi UMKM Kopi Kojal pada World of Coffee Bangkok 2026 yang difasilitasi langsung oleh Bank Indonesia, menghasilkan capaian strategis berupa Letter of Intent (LoI) dari berbagai buyer internasional asal Singapura, Dubai, Thailand, dan Swedia, serta buyer nasional ternama, dengan potensi transaksi mencapai 84.875 USD per tahun atau setara sekitar Rp1,4–1,7 miliar.
Capaian ini sekaligus membuktikan, bahwa kopi Liberika Kayong Utara memiliki daya saing tinggi di pasar internasional dan mampu menjadi komoditas unggulan baru Kalimantan Barat.









Discussion about this post