Percepatan transisi energi di Indonesia terus menunjukkan perkembangan positif. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan realisasi bauran energi baru terbarukan (EBT) telah mencapai 17,89 persen pada April 2026, melampaui target tahunan sebesar 16,46 persen.
Seiring dengan semakin banyaknya perusahaan yang mulai menggunakan energi surya, keberhasilan transformasi energi tidak lagi hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan memilih mitra yang tepat.
Edwin Widjonarko, Co-Founder sekaligus Director Technology Xurya, mengatakan, bahwa berdasarkan pengalaman mendampingi berbagai pelanggan, tingginya barrier to entry dalam transisi ke energi surya membuat perusahaan semakin selektif dalam memilih developer Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
“Berdasarkan pengalaman kami, salah satu tantangan terbesar dalam mendorong adopsi PLTS di sektor industri dan komersial adalah karena PLTS merupakan investasi jangka panjang. Karenanya, perusahaan perlu yakin bahwa mereka memilih developer PLTS yang tepat,” ujar Edwin.
Lanjutnya, untuk membangun kepercayaan tersebut, kami fokus pada pemahaman terhadap kebutuhan operasional setiap pelanggan, kualitas implementasi, serta memastikan sistem dapat memberikan kinerja yang optimal sepanjang masa operasionalnya.
“Hasilnya, banyak pelanggan kembali mempercayakan pengembangan PLTS kepada Xurya melalui penambahan kapasitas maupun ekspansi ke fasilitas operasional lainnya,” katanya.
Salah satu perusahaan yang terus memperluas implementasi PLTS bersama Xurya adalah PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO). Pada awal 2026, CLEO mengumumkan akan terus melakukan penambahan kapasitas PLTS di pabriknya. Sejak memulai kerja sama dengan Xurya pada 2021, implementasi PLTS CLEO kini telah menjangkau 20 pabrik dengan total kapasitas 8 MWp, menjadikannya perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) dengan implementasi PLTS terbanyak di Indonesia.
Selain itu, PT Uni-Charm Indonesia Tbk telah memperluas implementasi PLTS ke tiga fasilitas dengan total kapasitas lebih dari 12 MWp. FKS Group juga mengembangkan implementasi PLTS dari satu fasilitas menjadi tujuh lokasi dengan total kapasitas lebih dari 4 MWp.
Hal serupa dilakukan CT Corp yang memperluas implementasi PLTS ketiga lokasi, yakni Trans Studio Mall Bandung, Trans Studio Mall Cibubur, dan Trans Studio Mall Makassar.
Primaya Hospital Group juga memperluas implementasi PLTS ke dua rumah sakit dengan total kapasitas lebih dari 550 kWp. Sementara itu, Gajah Tunggal terus mengembangkan implementasi PLTS hingga empat lokasi dengan total kapasitas 16 MWp.











Discussion about this post