Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) melaporkan, jumlah penduduk miskin di Kalimantan Barat pada September 2025 turun sebesar 5,97 persen atau melandai sebanyak 0,19 persen poin terhadap Maret 2025. Jumlah penduduk miskin di daerah ini, menurut BPS, pada September 2025 terdata sebanyak 322,54 ribu orang, turun sebanyak 8,41 ribu jiwa pada Maret 2025.
Persentase penduduk miskin di perkotaan pada September 2025 sebesar 4,29 persen menurun sebesar 4,48 persen dibandingkan pada Maret 2025. Sementara di perdesaan tercatat penduduk miskin sebesar 7,05 persen, menurun sebesar 7,22 persen dibandingkan pada Maret 2025.
“Dibandingkan Maret 2025, jumlah penduduk miskin September 2025 perkotaan mengalami penurunan sebanyak 2,62 ribu orang, dari 92,90 ribu orang pada Maret 2025 menjadi 90,28 ribu orang pada September 2025. Sementara itu, pada periode yang sama, jumlah penduduk miskin perdesaan menurun sebanyak 5,78 ribu orang dari 238,05 ribu orang pada Maret 2025 menjadi 232,27 ribu orang pada September 2025,” jelas Muh Saichudin, Kepala BPS Kalbar pada konferensi pers BRS Berita Resmi Statistik (BRS) pada Kamis, 5 Februari 2026.
Ia mengungkapkan, Garis Kemiskinan pada September 2025 tercatat sebesar Rp 652.220,00 per kapita per  bulan, dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp 491.177,00 (75,31 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp161.043,00 (24,69 persen).
“Pada September 2025, rerata rumah tangga miskin di Kalimantan Barat memiliki 5,57 orang anggota rumah tangga. Dengan demikian, besarnya Garis Kemiskinan per rumah tangga secara rata-rata adalah sebesar Rp3.632.865,00 per rumah tangga miskinper bulan,” ujarnya.
Komoditas makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada Garis Kemiskinan (GK), baik di perkotaan maupun perdesaan menurut Saichudin, pada umumnya hampir sama. Yakni beras, yang memberi sumbangan sebesar 20,15 persen di perkotaan dan 24,74 persen di perdesaan.
Sedangkan pemberi sumbangan ke dua terbesar pada GK adalah rokok kretek, yakni sebesar 15,53 persen di perkotaan dan 12,39 persen di perdesaan. Sedangkan komoditas lainnya, adalah daging ayam ras sebesar 5,76 persen di perkotaan dan 6,55 persen di perdesaan, telur ayam ras menyumbang 6,05 persen di perkotaan dan 3,84 persen di perdesaan.
Mie instan juga turut menyumbang GK sebesar 3,09 persen di perkotaan dan 2,63 persen di perdesaan, disusul gula pasir 2,59 persen di perkotaan dan 3,18 persen di perdesaan.
Komoditas bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar, baik pada GK perkotaan dan perdesaan, adalah perumahan sebesar 8,89 persen di perkotaan dan 10,01 persen di perdesaan, bensin sebesar 3,37 persen di perkotaan dan 4,07 persen di perdesaan serta listrik sebesar 2,83 persen di perkotaan dan 1,73 persen di perdesaan.










Discussion about this post