Bagi Nasywa, pencapaian ini menjadi kesempatan untuk meningkatkan kepercayaan diri, mengasah kemampuan berbicara di depan publik, serta memperkuat portofolio untuk mendukung rencana pendidikan dan kariernya pada masa mendatang.
Sementara itu, Andika menilai keberhasilan tersebut sebagai salah satu pencapaian terbaiknya pada tahun ini. Program GSA juga membuka kesempatan baginya untuk memperluas jejaring dan bertukar pengalaman dengan mahasiswa terpilih dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Namun, bagi keduanya, manfaat program ini tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh diharapkan dapat dibagikan kepada mahasiswa lain agar semakin banyak yang memahami potensi AI sekaligus mampu menggunakannya secara bertanggung jawab.
Nasywa berencana menggagas program podcast yang membahas pemanfaatan AI dalam kehidupan akademik. Melalui inisiatif tersebut, ia ingin membangun pemahaman bahwa AI bukanlah teknologi yang menggantikan peran manusia, melainkan alat bantu yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran apabila digunakan secara tepat.
Menurutnya, mahasiswa perlu memahami tidak hanya kemampuan AI dalam membantu menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga etika penggunaannya agar teknologi tersebut tidak menghilangkan peran berpikir kritis, kreativitas, dan tanggung jawab pribadi.
Di sisi lain, Andika berencana menyelenggarakan lokakarya dan seminar mengenai pemanfaatan Google Gemini bagi mahasiswa UNTAN. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang belajar bersama untuk mengenal berbagai fitur AI dan mengoptimalkannya dalam mendukung aktivitas perkuliahan maupun pengembangan diri.
Melalui kegiatan tersebut, ia ingin memastikan bahwa pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti program GSA tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga dapat dirasakan oleh mahasiswa yang lebih luas.
Perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat kemampuan memahami AI tidak lagi sekadar menjadi nilai tambah, melainkan kebutuhan bagi mahasiswa dari berbagai bidang ilmu. Pemanfaatan AI secara tepat dapat membantu meningkatkan produktivitas, menghemat waktu, serta mendukung penyelesaian berbagai persoalan akademik. Meski demikian, penggunaannya tetap harus disertai kemampuan berpikir kritis, verifikasi informasi, dan pemahaman terhadap etika digital.
Karena itu, Nasywa dan Andika mengajak mahasiswa UNTAN yang ingin mengikuti program Google Student Ambassador pada periode berikutnya agar tidak ragu mengambil kesempatan untuk berkembang.
Persiapan sejak dini, kemauan untuk terus belajar, serta konsistensi dalam mengasah kemampuan menjadi sejumlah bekal penting untuk menghadapi proses seleksi. Pengalaman berorganisasi dan keberanian mencoba hal baru juga dapat menjadi modal untuk mengembangkan potensi diri.
Keberhasilan 14 mahasiswa UNTAN menembus program Google Student Ambassador 2026 Batch 2 diharapkan tidak hanya menjadi prestasi yang membanggakan bagi universitas, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat budaya literasi AI di lingkungan kampus.
Dengan semangat berbagi pengetahuan, berkolaborasi, dan terus berinovasi, para mahasiswa terpilih diharapkan mampu menginspirasi rekan-rekannya untuk memanfaatkan teknologi secara kreatif, etis, dan bertanggung jawab dalam menghadapi tantangan era digital.**












Discussion about this post