Mantan ekonom Kementerian Keuangan 2016 ini, menilai tingginya pertumbuhan ekonomi Kalbar selain kontribusi dari pelabuhan Kijing, di samping pertambangan, program hilirisasi juga sudah bergerak, setelah dihentikannya ekspor bauksit mentah pada tahun 2023 lalu, yang memaksa pengusaha membangun smelter.
Kepala BPS Kalbar, Muh Saichudin juga mengungkapkan, keberadaan Terminal Kijing ikut mendongkrak sektor pertambangan hingga 34,14 persen serta lonjakan investasi di angka Rp11,69 triliun. Sementara nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp86,78 triliun, berkontribusi sekira 17,61 persen terhadap total PDRB regional Pulau Kalimantan.
Selain Terminal Kijing yang menjadi nafas perekonomian Kalimantan Barat, juga ada tiga area terminal lainnya, yakni Kawasan Dwikora di Pontianak yang melayani general cargo, Pelabuhan Perintis Sintete, melayani kebutuhan logistik regional dan Pelabuhan Perintis Ketapang melayani berbagai komoditas nonpetikemas.
Meski menghadapi tekanan harga alumina serta risiko pasokan bauksit, prospek hilirisasi Kalimantan Barat kini tengah memasuki fase penguatan bauksit, selaras berkembangnya kapasitas pengolahan alumina dan industri aluminium nasional.
Pengembangan fasilitas pengolahan di sejumlah wilayah, di antaranya Kabupaten Mempawah, Ketapang dan Kayong Utara mulai menggeser struktur industri dari aktivitas berbasis komoditas mentah, menuju pengolahan yang bernilai tambah.
Fasilitas pengolahan alumina yang telah beroperasi memiliki kapasitas sekira 1–2 juta ton per tahun, sementara pengembangan tahap berikutnya diarahkan pada pembangunan fasilitas peleburan aluminium, dengan kapasitas yang diprakirakan mencapai 600 ribu hingga 1 juta ton per tahun.
Perkembangan tersebut, menandai semakin terbentuknya rantai nilai bauksit alumina–aluminium di Kalimantan Barat, sekaligus memperkuat posisi daerah sebagai salah satu basis pengembangan industri mineral bernilai tambah di kancah nasional.
Pada Juni 2026 Terminal Kijing menorehkan tonggak penting pengembangan sektor logistik dan perdagangan internasional dengan melepas ekspor perdana (maiden voyage) petikemas menggunakan kapal PT Pulau Laut Line, yang menandakan dimulainya layanan ekspor langsung dari Kalimantan Barat menuju pasar internasional.
Pelayaran perdana ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat konektivitas logistik, memangkas biaya distribusi, serta meningkatkan daya saing komoditas unggulan Kalimantan Barat di pasar global.
Sejumlah eksportir dari kawasan Pelabuhan Kijing dan Tayan mengirimkan berbagai komoditas unggulan. Dari Pelabuhan Kijing, PT Borneo Alumina Indonesia mengekspor 12 kontainer 20 feet berisi Alumina Hydroxide menuju Pasir Gudang, Malaysia.
PT Unicoco Industries Indonesia turut mengirimkan dua kontainer produk olahan kelapa (Dedicated Coconut) ke tujuan yang sama, sementara PT Ferrindo mengekspor 10 kontainer kelapa bulat menuju Yangpu, Tiongkok.
Sementara itu, dari kawasan Tayan, PT Indonesia Chemical Alumina mengirimkan sebanyak 150 kontainer berukuran 20 feet dengan tujuan Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan.
General Manager Pelindo Regional 2 Pontianak, Kalbar Yanto berkata, pelayaran perdana ini merupakan momentum penting dalam meningkatkan pelayanan logistik sekaligus membuka akses ekspor yang lebih efisien bagi para pelaku usaha di Kalimantan Barat.
Menurutnya, kehadiran layanan ekspor langsung melalui Terminal Kijing memberikan banyak keuntungan bagi eksportir. Selain menekan biaya logistik karena lokasi pelabuhan lebih dekat dengan kawasan industri dan gudang, layanan ini juga mempercepat waktu pengiriman barang ke negara tujuan.
“Dengan adanya layanan ini, eksportir tidak lagi bergantung pada pelabuhan di luar Kalimantan Barat. Biaya angkutan darat menjadi lebih efisien, sementara waktu pengiriman juga lebih singkat. Untuk rute Pasir Gudang tersedia layanan direct call, sedangkan komoditas tujuan Tiongkok dapat lebih cepat melalui proses transshipment di Pasir Gudang,” ujarnya.
Pada ekspor perdana itu, Terminal Kijing memberangkatkan 180 kontainer berisi aluminium, kelapa, dan minyak kelapa mentah dengan total nilai ekspor mencapai sekira Rp21,4 miliar.
Gubernur Kalbar, Ria Norsan juga berharap Terminal Kijing menjadi sentra ekspor impor sekaligus meningkatkan daya saing daerah. Ia menyampaikan komitmen untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif, dengan mempercepat proses perizinan serta mendorong masuknya investor-investor baru.
Kalbar Basis Sumber Daya Bauksit
CRU (Commodities Research Unit) perusahaan riset dan market intelligence global, memperkirakan pasar alumina masih berada dalam kondisi surplus pada 2026 walaupun harga alumina cenderung berada di bawah tekanan dan baru berpotensi menguat kembali mulai 2027, seiring peningkatan kebutuhan dari smelter aluminium dan penyesuaian kapasitas produksi.
Pada saat yang sama, pengembangan kapasitas smelter baru di Indonesia menciptakan tambahan kebutuhan alumina di dalam negeri. Kondisi ini membuka peluang bagi produsen alumina Kalimantan Barat untuk memperkuat orientasi pasar domestik di tengah tekanan harga global.
Peluang tersebut terlihat melalui pengembangan smelter alumunium, salah satunya di Kalimantan Utara. Berdasarkan informasi publik, kapasitas smelter tersebut, mencapai 500 ribu ton aluminium per tahun dan ditargetkan dapat mencapai kapasitas produksi penuh pada akhir 2026.
Peluang pasar domestik menjadi semakin relevan, seiring dengan keunggulan industri alumina Indonesia dari sisi biaya produksi, yang ditopang oleh kedekatan refinery dengan sumber bauksit domestik serta ketersediaan sumber energi lokal.
Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Barat mengungkapkan, di tengah tekanan harga alumina global, pasar domestik menjadi semakin strategis dalam memberikan kepastian penyerapan produksi.
Dalam hal ini, tekanan pasar global justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat keterkaitan antara industri alumina Kalimantan Barat dan pengembangan smelter aluminium nasional.
Provinsi Kalimantan barat merupakan salah satu basis sumber daya bauksit nasional, walaupun kapasitas pengolahannya belum sepenuhnya ditopang oleh pasokan domestik. Peningkatan kapasitas pengolahan alumina dan bertambahnya potensi penyerapan domestik, membutuhkan kontinuitas pasokan bijih bauksit agar utilisasi refinery dapat tetap terjaga.
Berdasarkan estimasi Institut pour l’Histoire de l’Aluminium (IHA) dan sejumlah sumber informasi lainnya, produksi 1 ton alumina setidaknya membutuhkan sekira 2 hingga 2,5 ton bijih bauksit. Ini membuka kemungkinan pemenuhan sebagian kebutuhan bahan baku melalui impor bauksit, apabila pasokan domestik belum mencukupi.
BI meyakini, prospek industri alumina Kalimantan Barat tetap positif, meskipun penguatannya berlangsung secara bertahap. Dalam jangka pendek, surplus alumina global masih berpotensi menahan kenaikan harga, sehingga peningkatan kapasitas produksi perlu diimbangi dengan efisiensi dan kepastian pasar.
Dalam jangka menengah, penambahan kapasitas aluminium domestik berpotensi meningkatkan kebutuhan alumina sekaligus memperkuat integrasi rantai pasok nasional.
Dengan dukungan pasokan bahan baku, energi, dan logistik yang memadai, perkembangan tersebut akan mendorong peningkatan utilisasi industri, aktivitas perdagangan, dan nilai tambah ekonomi daerah. **
Pewarta/Editor: Sri Yuliantiningsih









Discussion about this post