“Kami sudah konsultasi dengan Ditjen Perkebunan, Gubernur Kalbar dan Bupati Kubu Raya. Mengingat karhutla masih berlangsung, kami sangat prihatin dan empati pada masyarakat yang terkena. Acara 6th IPOSC sepakat diundur,” kata Hendra.
Lebih lanjut, Hendra menilai bahwa kondisi karhutla justru memperlihatkan pentingnya edukasi dan komunikasi yang baik mengenai pengelolaan perkebunan dan lingkungan.
Menurutnya, seluruh pihak perlu mengambil peran dalam mendorong praktik perkebunan yang bertanggung jawab serta meningkatkan kesadaran mengenai pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
“Kami sangat memahami sensitivitas situasi yang terjadi saat ini dan menghormati perhatian masyarakat terhadap karhutla di Kalimantan Barat. Penyelenggara IPOSC menyampaikan keprihatinan dan empati kepada seluruh masyarakat yang terdampak. Kami berharap edukasi yang dibawa IPOSC dapat menjadi bagian dari upaya bersama untuk mendorong praktik perkebunan yang lebih baik, produktif, dan tetap memperhatikan lingkungan,” tuturnya.
Dengan demikian, penyelenggara berharap masyarakat dapat melihat IPOSC sebagai ruang dialog dan edukasi, bukan sebagai kegiatan yang mendukung pembukaan lahan ataupun pembakaran hutan dan lahan.
IPOSC 2026 diharapkan dapat menjadi wadah untuk mempertemukan berbagai perspektif dalam mencari solusi atas tantangan industri kelapa sawit, termasuk produktivitas, perubahan iklim, keberlanjutan, dan kesejahteraan petani.
“Kami menghargai setiap kritik dan perhatian publik terhadap kegiatan ini. Bagi kami, kepedulian terhadap lingkungan dan kepedulian terhadap petani bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya harus berjalan bersama. Karena itu, melalui IPOSC, kami ingin terus mendorong edukasi dan praktik perkebunan yang produktif, bertanggung jawab, dan berkelanjutan,” pungkas Hendra J. Purba.**









Discussion about this post