Dendi mengakui, bahwa lawannya memiliki daya juang tinggi dan tidak mudah melakukan kesalahan sendiri. Karenanya ia perlu melakukan variasi serangan untuk menembus permainan lawan.
“Dia bermain cukup ulet, kalau tidak cepat diantisipasi mungkin bisa keteteran. Tapi saya belajar ketika melawan Jepang kemarin, lawan tidak banyak melakukan kesalahan sendiri, makanya saya antisipasi dan harus ada perubahan serangan, baru bisa menahan lawan,” kata Dendi.
Spesialis atlet bulutangkis profesional Indonesia nomor tunggal putra asal Tasikmalaya ini, mampu bertahan di babak 16 besar untuk melanjutkan perjuangannya di babak perempat final.
Dendi merasa kemenangan yang diraihnya menjadi semakin penting, lantaran kini hanya tersisa dua wakil Indonesia saja di sektor tunggal putra. Ini diakui Dendi turut membawa tekanan besar. Ia menyadari, jika ia dan atlet lainnya gagal masuk babak selanjutnya, maka tidak ada lagi wakil tuan rumah di laga tunggal putra.
“Iya, terasa tekanannya lebih tinggi. Soalnya, kalau sudah tinggal dua, kalau kalah semua, jadi pemain tunggal tidak ada. Jadi sebisanya mungkin ketegangan ini harus bisa diredam, harus enjoy di lapangan,” ucap Dendi sembari menyeka keringatnya.
Pertarungan berikutnya, memang akan semakin berat. Dendi harus tetap menjaga pikiran dan stamina tubuhnya agar tetap bisa mempertahankan konsistensi permainannya. **












Discussion about this post