Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia, Juda Agung, menyampaikan bahwa Pemerintah terus memperkuat dukungan bagi UMKM melalui akses pembiayaan yang terjangkau, insentif perpajakan, serta kemudahan ekspor dan akses pasar.
“UMKM tidak hanya naik kelas ketika memperoleh pembiayaan, tetapi juga ketika memperoleh akses pasar, meningkatkan kapasitas, dan membangun kemitraan. Untuk itu, sinergi antarotoritas, korporasi, lembaga keuangan, dan UMKM menjadi kunci,” tutur Juda.
Talkshow menghadirkan narasumber Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, Solikin M. Juhro; Deputi Komisioner Pengaturan Perizinan dan Pengendalian Kualitas Otoritas Jasa Keuangan, Deden Firman Hendarsyah; dan Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian, Reni Yanita. Selain itu, hadir pula SEVP Institution Business PT BRI Tbk, Suyitno dan wirausahawan di bidang manufaktur peralatan dapur yang telah mengembangkan UMKM-nya menembus pasar ekspor dan go-digital, Asep Winazar.
Seluruh narasumber berbagi perspektif dan praktik kemitraan korporasi-UMKM serta bagaimana pembiayaan mampu mendukung UMKM berkembang dan naik kelas. Kegiatan ini juga dihadiri perwakilan Kementerian/Lembaga, akademisi, bank dan lembaga keuangan non-bank, asosiasi, serta pelaku UMKM dan industri.
Kalbar Catat Nilai Transaksi Rp 4,208 Miliar
Di Kalimantan Barat, akselerasi intermediasi diindikasikan melalui pencapaian UMKM binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, di antaranya produk UMKM binaan telah terserap oleh jaringan offtaker korporasi yaitu Kelompok Tani (Poktan) Dare Nandung, Gapoktan Sejahtera, Ale-Ale Group, Kojal, 101 Coffe House, dan Pondok Pesantren Abdussalam (Torasera). Selain itu, UMKM binaan telah berhasil ekspor antara lain Betanun, PT Larasita, Taotoba, CV Dedeq Finger, PT Hutomo Niaga Borneo, Look Man Store, dan 101 Coffee House.
Sementara itu dari kegiatan business matching, termasuk yang dilaksanakan melalui kegiatan Saprahan Khatulistiwa dan Rabbani Khatulistiwa, nilai transaksi yang tercatat mencapai Rp4,208 miliar untuk penjualan dan Rp8,355 miliar untuk pembiayaan
Bank Indonesia mengajak seluruh pemangku kepentingan dan korporasi untuk terus meningkatkan intermediasi untuk mendukung sektor riil, terutama UMKM. “Melalui Gerakan Korporasi Gandeng UMKM diharapkan semakin banyak UMKM terhubung dengan rantai nilai, memperoleh akses pasar dan pembiayaan, serta tumbuh dan naik kelas,” imbuh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, Doni Septadijaya.
Beudaya MeusareSare, Berdaya Bersama-sama mendorong UMKM naik kelas, memperkuat ketahanan ekonomi, mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. **









Discussion about this post