Sementara itu, praktik serupa juga dilakukan di Desa Kalibandung. Nini Andriani menyebut, perempuan menjadi aktor utama dalam pengelolaan perhutanan sosial di desanya. Di Kalibandung, masyarakat mengelola berbagai komoditas seperti jahe, beras merah, nanas, pisang, kopi liberika, hingga kerajinan anyaman dari rotan dan bahan alami lainnya.
“Hampir 90 persen yang terlibat dalam pengelolaan ini adalah perempuan,” katanya.
Selain mengelola usaha, perempuan juga terlibat dalam patroli dan monitoring kawasan hutan. Hal ini penting karena wilayah tersebut merupakan lahan gambut yang rentan terbakar serta menghadapi ancaman penebangan liar.
Ia mengungkapkan, kegiatan patroli tidak mudah karena harus menempuh jarak belasan kilometer dengan berjalan kaki untuk memantau titik-titik rawan. “Kami jalan jauh untuk memastikan tidak ada kebakaran atau aktivitas ilegal,” ujarnya.
Berbagai pelatihan juga telah diikuti, mulai dari pembuatan pupuk kompos, teknik budidaya, hingga penggunaan aplikasi pemantauan hutan. Namun demikian, masih terdapat tantangan, seperti keterbatasan alat produksi dan permodalan.
“Harapan kami ada dukungan dari pemerintah dan pihak lain agar pengelolaan ini bisa terus berkembang,” imbuhnya. **
















Discussion about this post