“Inflasi inti tetap rendah sebesar 2,38 persen (yoy), sejalan pertumbuhan ekonomi yang masih di bawah kapasitas serta didukung konsistensi suku bunga kebijakan moneter dalam menjangkar ekspektasi inflasi sesuai dengan sasarannya, dan imported inflation yang tetap terkendali,” ujarnya.
Inflasi kelompok administered prices (AP) terjaga rendah sebesar 1,93 persen (yoy). Sementara itu, inflasi kelompok volatile food (VF) masih relatif tinggi sebesar 6,21 persen (yoy), disumbang terutama oleh komoditas bawang merah seiring pasokan yang terbatas akibat gangguan cuaca dan kenaikan harga benih. Ke depan, inflasi tahun 2026 dan 2027 diprakirakan tetap terjaga rendah dalam sasaran 2,5±1 persen.
Inflasi inti juga diprakirakan tetap rendah seiring ekspektasi inflasi yang terjangkar dalam sasaran, kapasitas ekonomi yang masih besar, imported inflation yang terkendali, dan dampak positif dari digitalisasi.
Sementara itu, inflasi VF diprakirakan tetap terkendali didukung oleh sinergi pengendalian inflasi oleh Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/TPID) dan penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional. 6. Pasar SBN melanjutkan perbaikan kinerja pada triwulan IV 2025.
Yield SBN 10 tahun menurun ke 6,01 persen, dari akhir tahun 2024 yang masih di atas 7 persen (turun 35 bps dibandingkan akhir triwulan III 2025 di 6,36 persen atau 100 bps dari 7,01 persen di akhir 2024), mencerminkan kepercayaan investor terhadap instrumen Pemerintah dengan tata kelola fiskal yang prudent. **












Discussion about this post